A password will be e-mailed to you.

Mari kita coba masukkan puisi Cahiril Anwar Aku ini Binatang Jalang ke dalam google translate untuk mencari terjemahannya dalam Bahasa Inggris. Kemudian kita akan menemukan bahasa Inggrisnya menjadi “I’m a bitch.”

Sungguh menarik, jika percaya pada puisi sebagai kristalisasi rasa, atau apalah sejenisnya, maka aku ini binatang jalang apakah masih akan dipilih sebagai kalimat yang kristal? Bagaimanapun, puisi kontemporer kemudian yang melanjutkan kejalangan itu. Jadi, kristalisasi itu seperti apa sih, bitch aka jalang?

Bitch dalam puisi-puisi kontemporer Amerika bertaburan di dalam puisinya, khususnya para penyair yang menamakan dirinya gerakan sastra flarf, di mana flarf itu sendiri menurut Tiffany Denman merupakan salah satu bentuk dari penulisan konseptual yang lahir dari internet, dalam hal ini menggunakan google meski tidak dibatasi dengan mesin pencari google saja.

Awalnya kehadiran flarf menurut Gary Sulivan adalah adanya sebuah perlombaan puisi yang dianggap sebagai penipuan karena hanya bermaksud mengumpulkan uang dari para pesertanya tanpa melihat isi puisinya yang dilakukan oleh web puisi Poetry.com di Amerika, bahkan menimpa beberapa perempuan penyair yang sama sekali tidak mengirimkan puisinya ke web tersebut kemudian nama-nama mereka dicatut. Sulivan merasa tertarik untuk mengirim puisi ke web tersebut dan mengirimkan puisi yang dianggapnya buruk berjudul Mm-hmm, dan tiga minggu kemudian mendapatkan surat yang berisikan bahwa puisi yang dikirim oleh Sulivan dianggap segar dan memberikan perspektif unik dalam kehidupan. Tidak hanya berhenti di situ saja, beberapa penyair lainnya pun ternyata ikut memasukkan puisi-puisinya ke Poetry.com yang terkadang mengirimkannya dengan nama samaran.

 Mm-hmm
Yeah, mm-hmm, ini benar
burung besar membuat
abang besar! Aku mendapat api di dalam
punyaku “huppa”-chimpTM
menjadi agreessif, berminyak aw ya tuhan
ingin DOOT! DOOT!
Pffffffffffffffffffffffffft! hei!
oooh yeah sayang ingin goyang & panggang lalu ambil
AWWWWWL duitmu, sayang (tee hee)
uggah duggah buggah biggah buggah muggah
hei! hei! kau buudoh Mick! pergi
sana petak sawah dan ambilkan
aku sedikit coklat Quik
simpan Q-tip di situ dan aduk sampai muak
pocka-mocka-chocka-locka-DING DONG
ngentot! tai! kencing! oh betapa menyedihkan bahwa
sindrom yang dinamakan tourette
membuat aku HAI-EE! berteriak kencang
Karena Aku cinta dia. Terima kasih Tuhan, telah mendengarkan!

Flarf menjadi sebuh istilah baru, sesuatu yang pada awalnya berasal dari puisinya Gary Sulivan yaitu salah satu penggagas awal flarf. Awalnya flarf hanya bunyi saja yang tak bermakna, sebagaimana dada. Meski Sulivan sendiri malah menyatakan istilah itu lebih dulu disebutkan oleh beberapa orang di kolektif flarf. Kemudian flarf menjadi sebuah gerakan sastra kontemporer yang diperhitungkan di Amerika sejak Mei 2001.

Gerakan sastra flarf ini awalnya beranggotakan: Gery Sulivan, Nada Gordon, Drew, Mitch, Jordan DavisCarol Mirakove, Kasey Mohammad, Katie Degentesh. Tidak lama kemudian ikut bergabung: Maria Damon, dan Erik Belgum. Anggotanya ada yang masuk dan ada juga yang keluar, beberapa penyair yang kemudian ikut bergabung meramaikan gerakan sastra FLARF di tahun 2003 adalah David Larsen, Rodney Koeneke, Michael Magee, Rod Smith, Daniel Bouchard, Sharon Mesmer. Meski awalnya sebagai istilah baru kemudian para penggeraknya mulai memaknai flarf itu sendiri, Sulivan mulai memberikan pengertian sebagai berikut:

Flarf: Sebuah kualitas dari kesengajaan atau ketidaksengajaan “flarfiness.” Sejenis korosif, imut, atau memuakkan, keburukan. Salah. Tidak tertib berbahasa. Di luar kendali. “Tidak baik-baik saja.”

Flarf (2): Karya dari komunitas penyair yang mendedikasikan untuk mengeksplorasi “flarfiness.” Pengguna berat dari mesin pencari Goggle dalam menciptakan karya puisi, drama, dll., walaupun tidak secara ekslusif berdasarkan Google. Komunitas dengan maksud bahwa seorang mengarahkan dan kemudian lainnya membalas, pada beberapa bagian bergantung pada interaksi komunitas seperti ini. Puisi dibuat, diperbaiki, diubah oleh orang lain, dimasukkan, dijiplak, dll, ke dalam ruang semi-publik seperti misalnya blog hingga webzine.

Flarf (3) (kata kerja): Untuk mengeluarkan kejelekan yang ada di dalamnya, dll., dari beberapa teks yang sudah ada sebelumnya.

Flarfy: Untuk menjadi salah, janggal, gagap, semi-koheren, fucked-up, tak tertib bahasa. Untuk melakukan hal yang tak terduga; supaya menggelegar. Melakukan satu hal “yang seharusnya tidak dilakukan.”

Betapa parapenyair Flarf ini mewarisi kejalangan Chairil Anwar. Flarf sendiri mempunyai teknik dalam menuliskan puisinya, seperti telah disebutkan di atas, mencari dan menggunakan kata-kata dari mesin pencari internet. Beberapa mencontohkan misalnya mencari dengan kata kunci seperti Chick Dig War, menjadi sebuah puisi yang ditulis oleh Drew Gardner. Kutipan puisinya sebagai berikut:

Gadis phallocentric/ Mereka menyukai lelaki dengan perang besar/ Aku tak bisa, kau tahulah, mempercayai perang/ Melawan gadis ketika mereka mempunyai sesuatu yang terjadi pada gadis anti perang/ Wanita akan mempercayainya, oh betapa imutnya sebuah perang.

Tugasmu telah paripurna kapten:/ Nikmatilah rampasan dari perang/ Betapa romantisnya/ Gadis menggali perang (khususnya gadis nenggak pil)/ Pengalamannya betapa magis/ Oh dan kamu bisa mendapat perang yang dahsyat/ Gadis suka perang yang baik.

Hal yang menjadi pertanyaan penting adalah, apakah google mengarahkan pada tema-tema tersebut? Sulivan menjawabnya, “Hell yeah!” Kemudian Sulivan menyebutkan jika Chick Dig War adalah Howl-nya (puisi Allen Ginsberg, generasi beat) generasi sekarang maka kita mempunyai persoalan besar pada saat ini.  

Misalnya juga Silem K. Mohammad yang buku puisinya berjudul Deer Head Nation (2003) menjadi buku genre flarf yang pertama terbit. Kalimat Deer Head Nation itu sendiri kalimat yang janggal dan hasil dari kolase yang dilakukan setelah menelusuri di google. Salah satu puisinya di dalam buku tersebut berjudul Mars Need Terroris menjadi salah satu puisi terbaik Amerika pada tahun 2004. Sulivan kemudian mempertanyakan apakah puisi seperti ini yang disukai oleh masyarakat Amerika sekarang?

:.:.:.:.: parasit alien
:.:.:.:.: budak alien yang selamat dari kapal,
:.:.:.:.: alien muda pada 1950 di Florida , seks
:.:.:.:.: teror dan kerusakan, teror
:.:.:.:.: teror didesain sebagai bagian anakmuda tolol
:.:.:.:.: beberapa sekarang basah sekali
:.:.:.:.: romantik, orang-orang republik
:.:.:.:.: katakan padaku tentang teror mereka
:.:.:.:.: perlengkapan untuk ?Aku?adalah budak
:.:.:.:.: penggalang dana untuk orang-orang republik
:.:.:.:.: dan kontes roti basah
:.:.:.:.: orangtua ngobrol tentang seks
:.:.:.:.: dari sini 7.memerangi orang-orang republik 8
:.:.:.:.: 8.kami adalah 138.9 anakmuda

Melalui puisi flarf tersebut, terdapat tema-tema yang masuk ke dalam persoalan kebijakan Amerika dalam skala global, yaitu kebijakan war on terror. Beberapa puisi flarf menyoroti persoalan kebijakan Amerika melawan terorisme dan ekspansi perang ke negara-negara lain. Sharon Mesmer dalam puisinya Squid versus Assclown juga menyoroti persoalan 9/11 yaitu: Nose of Jesus thinks 9/11 was a comedy about Afghanistan/ Afghanistan is evidence that Bush hates black people (Hidung Yesus berpikir 9/11 adalah komedi tentang Afganistan/ Afganistan adalah peristiwa di mana Bush membenci kulit hitam).

Mesmer dan penyair flarf lainnya banyak menabur kosakata slang dan tidak baku. SQUID saja sebagai contoh secara harfiah adalah cumi-cumi, namun tak dapat dipungkiri memaksudkan untuk pelesetan dari kata SQUAD. Melalui puisi tersebut, makna menjadi kabur karena ada kode dan konvensi lain yang digunakan oleh kelompok masyarakat.

Gardner juga dalam Chick Dig War, dengan sengaja menggunakan istilah “chick” yang bagi pembaca di kita selintas mengartikan sebagai anak ayam. Tetapi generasi muda tentu banyak mengkonsumsi film anak muda Amerika sehingga bisa paham maksud “chick” adalah gadis. Untuk istilah “fuck” yang lumrah pengertiannya adalah ngentot, hal yang sangat berbeda dalam penerjemahan di Indonesia yang lebih sering menerjemahkannya menjadi persetan.    

Pada akhirnya, pembeda yang tampak adalah bahwa dalam puisi flarf setelah melakukan semacam kolase atau cut-up dari kata-kata dengan mesin pencari di internet, penyair mengaransemen dan mengedit kembali menjadikannya puisi, dan kemudian membuatnya menjadi gerakan sastra yang cukup menghebohkan Amerika di kisaran tahun 2001 sampai dengan saat ini. Setelah Chairil Anwar, di Indonesia puisi mbeling di majalah aktuil adalah perlawanan terhadap orde baru. Mari kita lihat lagi Remy Silado dalam salah satu puisi mbelingnya yang berjudul Hari-hari Maniak Seks:

O
T
A
K
NYA

D
I

HEUNCEUT.

Remy Silado juga membuat mbeling tidak sekadar nakal dalam soal seksualitas, tetapi juga puisi-puisi kritik terhadap politisi terutama soal-soal korupsi. Di Bandung pola puisi mbeling saat ini terlihat dalam puisi-puisi Mat Don.

Meski puisi-puisi yang membuka tabu dengan keberanian menawarkan tema-tema seksualitas sudah berkembang sedemikian rupa di sini, namun masih jarang garapan di wilayah seperti tema-tema dalam flarf, yaitu perpaduan mengkritisi kebijakan War on Terror, kritik terhadap perang, dan nakal dalam tema seksual (bahkan cukup santer merambah tema LGBT).

Pada perkembangannya, flarf kemudian berkembang di luar komunitas pendiri gerakan sastra flarf generasi pertama. Ada yang menamai dirinya postflarf dan ada yang menamai new flarf. Mesmer yang menyusup dalam diskusi tentang postflarf pada tahun 2012, menyebutkan bahwa, “flarf itu seperti mesin dalam The Matrix, dan postflarf adalah sumber energi kita, otak kita di dalam tong, bahan bakar ekslusif kita.” Mesmer, dalam diskusi tersebut, juga mengatakan bahwa flarf hadir antara lain karena adanya kebijakan perang melawan terorisme di Amerika, dan kemudian karena masih terjadi perang yang tak berkesudahan sehingga membuat postflarf hadir. Sehingga bagi Mesmer, postflarf adalah kritik terhadap konsep yang tak berkesudahan.