A password will be e-mailed to you.

Setelah semangat revolusi luruh—tergantikan oleh semangat pembangunan untuk terus memenuhi kebutuhan zamannya—manusia dihadapkan pada problem kemanusiaannya: pengkhianatan, kekerasan, romantika, kesedihan, pemberontakan, dan sampailah pada titik jenuh, yaitu mempertanyakan jati diri: siapa saya ?

Dan terus bertubi-tubi pertanyaan demi pertanyaan masyarakat modern: setelah perang dunia kesatu, kedua, dan entahlah perang dunia keempat kemungkinan memakai batu, bambu runcing atau dengan panah; kata Einstein. Sebab perang dunia ketiga tidak bisa diramalkan, tak bisa dibayangkan bagaimana musnahnya kehidupan. Demikianlah keadaan yang teramat canggih sehingga setelah postmodern, nama apakah yang tepat untuk menyebut zaman setelah itu? Mungkin zaman Superman, Rambo, atau zaman robot, sebab manusia hampir menyamai tuhan.

Mohon maaf kalau ada yang tersinggung. Saya tidak bermaksud menyudutkan agama, tetapi sekadar melukiskan pengetahuan manusia yang super hebat di abad yang akan datang.

Saya insaf, ternyata secanggih apapun pengetahuan manusia, tetap ‘ketakutan’ selalu menghantuinya: alam terasa tidak ramah lagi. Bumi memang sudah tua, ini dikatakan sejak saya baru belajar membaca, hingga kini saat saya telah membaca jutaan kata dari buku-buku yang dapat saya baca. Mungkin sudah teramat tua, para ilmuwan sudah silih berganti datang dan pergi tetapi ketakutan tidak pernah mati.

Alam sudah menunjukkan murkanya: bagaimana tsunami merenggut ribuan nyawa, gempa, banjir, longsor, wabah penyakit. Alam memang tidak ramah lagi. Mengapa? Saya tidak tahu. Belum lagi isu pemanasan global yang telah menjadi perhatian dunia. Terbayang kalau betul-betul terjadi dan pasti akan terjadi.

Manusia sejenius apa lagi yang harus didatangkan untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran? Saya rasa tidak akan ada yang bisa melawannya. Tetapi bukan manusia kalau tidak bisa keluar dari kesulitan hidupnya. Akalnya selalu memberi jalan, hati selalu dibisiki petunjuk-petunjuk yang tidak tahu dari mana datangnya. Maka Tuhan mengirimkan para Nabi: memberi petunjuk dalam firman-firmannya, membawa kabar gembira tentang hari esok nanti. Tapi akankah dia bisa merubah keadaan seandainya saat ini dikirim seorang Nabi ke Indonesia? Saya pikir tidak akan merubah keadaan, tidak akan ada yang pernah sanggup merubahnya, bahkan untuk seorang Nabi sekalipun. Apa lagi menurut agama Islam, tidak ada lagi Nabi dan Rasul setelah Muhammad SAW. Kita harus menunggu Nabi Isa turun ke bumi sebagai al-Mahdi/Mesiah yang dijanjikan Tuhan. Apakah kita harus menunggunya terus menerus? Saya pikir tidak mungkin. Kita bukan tokoh Waiting for Godot karya Becket, seperti Vladimir dan Estragon yang absurd itu, tapi betapa banyaknya manusia yang menunggu juru selamat di tengah kehidupan yang mirip Caligula, Sisyipus dan cerpennya Jenar Maesya Ayu: “Orang Bilang Saya Monyet.” Kamu memang monyet, monyet jantan dan betina.

Sedemikian parahkah peradaban dan kebudayaan manusia di zaman modern ini? Saya tidak bisa menjawabnya. Anggaplah ini hanya ketakutan segelintir orang pada kehidupan dunia yang memang sebetulnya tidak begini-begini amat. Terbukti masih banyak moralis-moralis dan rumah-rumah suci­ beserta para pengunjungnya. Media-media tak kalah religinya dengan menampilkan da’i-da’i, gema gereja, agama-agama yang terus bermunculan dan tak pernah mati, dari yang resmi dan yang dituduh sesat.

Ah, saya tetap gelisah dan meragukan pemandangan yang indah ini: saat orang-orang menyeru pada kebaikan dan mengajak beribadah kepada Tuhan, namun kesenjangan terus saja diciptakan. Agama telah dieksploitasi, kebenaran-kebenaran semu didagangkan. Untuk yang kelaparan bolehlah disuapi untuk/dari ummatnya, tetapi sikapnya sendiri tak mencerminkan apa yang dikatakannya.

Bicara soal kasih sayang, bahkan Jesus Critstus memberikan pipi sebelahnya setelah ditampar pipi yang satunya lagi. Muhammad Rasulullah rela memberikan sekerat roti dalam keadaan lambung sendiri lapar. Apakah sikap seperti ini masih ada di bumi tercinta? Saya pikir ada, namun entah di mana. Mungkin seper sejutanya. Muballigh ikut-ikutan jadi seleb, dieksploitasi kapitalis, eh cuek-cuek saja.

Sekali lagi maafkan saya telah berulang kali memohon maaf. Saya rasa kehidupan ini sudah tidak perlu orang bijak, sebab orang bijaknya telah mati diracun lingkungannya sendiri—seperti Socrates. Kita sudah tidak perlu lagi seorang filsuf saat masyarakat hedonis sudah menjelma raksasa. Filsafat dikuburkan dan diganti oleh tarian striptis, dangdut, dan sejenisnya. Tapi ini semata-mata ketakutan saya terhadap diri sendiri. Anda tak usah khawatir, apa lagi harus tersinggung oleh pernyataan saya. Lihat saja nanti buktinya, kebudayaan yang dibangun di atas kebodohan, seperti panggung sandiwara yang didirikan di atas tumpukan pasir, tinggal menunggu ambruk saja, seperti buih di lautan tak punya kekuatan apapun. Apa yang harus kita lakukan? Tugas siapa ini semua?