A password will be e-mailed to you.

Hari Sabtu, 23 Maret 2019, adalah hari yang penuh kebahagiaan heuseus bagi Derhud (Deri Hudaya). Di hari yang penuh berkah itu, ia seperti dikhitan kembali, lantas diarak keliling kampung naik sisingaan. Paling tidak, itulah yang tampak dari ekspresi beliau ketika carponnya—Lalakon Kadalon-dalon—direspon dan dihajatkeun oleh kawan-kawan Huma-field.

Awalnya acara molor. Tak tanggung-tanggung, panitia butuh waktu kurang lebih dua jam dari jadwal yang sudah ditentukan untuk bisa memulai acara. Jadwal dimulai jalm tiga, namun baru dimulai pukul lima. Tetapi memang ada empat hal yang menyebabkan kemoloran waktu itu terjadi.

Pertama, soal hujan. Cuaca yang sulit diprediksi membuat panitia tak leluasa untuk memutuskan apakah acara harus segera dimulai atau tidak. Peserta atau bahkan tamu undangan belum menunjukkan tanda-tanda kehadirannya, meski waktu sudah masuk jam tiga. Ketika itu, hujan turun dengan semena-mena.  Panitia tak bisa membendungnya. Tak ada dari mereka yang mampu menjadi pawang hujan. Ilmu-ilmu magis yang mereka dapatkan dari acara Ustad Danu atau si Roy Kiyoshi, tak berguna samasekali.

Kedua, lokasi. Di poster yang diunggah di media sosial beberapa hari sebelumnya, panitia mencantumkan informasi tempat acara yang tidak informatif. Mereka hanya menulis Kelakar Fibrasi Garage, lantas ditambahi keterangan dalam kurung: google maps. Ya memang Kelakar Fibrasi Garage bisa dengan mudah ditemukan dalam google maps. Namun, selain ngagawekeun audiens, hal itu juga terkesan sok-sokan. Beberapa audiens mengaku sempat kebingungan mencari lokasi.

Ketiga, kebiasaan. Sudah merupakan sesuatu yang tak aneh jika para audiens datang terlambat. Acara apapun, selalu begitu. Hal yang demikian itu memperkuat alasan panitia untuk mengundurkan acara.

Keempat, woles. Semua panitia—tanpa terkecuali—punya semangat woles dalam kepribadiannya masing-masing. Tak ada kecemasan atau kepanikan apapun yang nampak dari panitia ketika acara belum juga dimulai. Mungkin bagi mereka, tak ada yang datang pun tidak masalah. Bahkan acaranya tak jadi pun tak apa-apa. Sungguh sebuah mental yang tak patut ditiru.

Barulah pada pukul lima acara dimulai. Ikbal dari Diskumal Band membukanya dengan menyanyikan lagu Hymne Huma: Imagine. Tentu saja Imagine yang dimaksud adalah Imagine-nya John Lennon. Namun pihak Huma mengklaim lagu tersebut sebagai hymne Huma karena dianggap mewakili semangat humanisme yang diusung mereka. Wkwkwk.

Diskusi

Dicki Lukmana berperan sebagai moderator. Sebelum memulai diskusi dan mempersilahkan Deri Hudaya (empunya carpon Lalakon Kadalon-dalon) dan Yokeu Darisman (pembedah), ia menyampaikan beberapa hal, di antara informasi bahwa acaranya pada kali ini merupakan Susastra yang kedua. Yang pertama dilaksanakan pada bulan Agustus 2018, tema: Puisi, Perempuan, dan Media, dengan subjek diskusi Putri Khansa. Acara kali ini juga merupakan acara yang diselenggarakan Huma-field yang keenam kalinya.

Dicki Lukmana, Deri Hudaya, Yokeu Darisman

Yokeu kemudian ke depan untuk menyampaikan analisisnya terhadap carpon Lalakon Kadalon-dalon karya Deri Hudaya. Ia rupanya membedah carpon tersebut dengan semena-mena, tanpa landasan teori apapun, dan terkesan malah main ludruk. Meski begitu, ia juga menyampaikan beberapa pandangannya mengenai kontekstualitas Lalakon Kadalon-dalon dan situasi zaman yang tengah berkecamuk di negara ini. Yokeu menyangkut-pautkan carpon tersebut misalnya dengan pilpres, komodifikasi agama, politik identitas, dan issue sosial budaya lainnya.

Setelah Yokeu lelah dengan omongannya sendiri, tibalah giliran Deri Hudaya untuk menyampaikan apa yang sebenarnya tersembunyi di balik karyanya itu. Sebetulnya ia tidak mengutarakannya langsung, namun dipandu oleh pertanyaan-pertanyaan dari Dicki yang kemudian membantunya menyampaikan apa-apa yang mesti disampaikan.

Salahsatu yang mencuat dari diskusi dan sedikit menjadi perdebatan adalah soal fenomena ‘senja, kopi, dan sok folk.’ Seperti yang kita semua tahu kalau kata-kata seperti ‘senja’ misalnya kini banyak digunakan orang. Ia menjadi kata poluler. Banyak lagu merespon senja. Banyak grup band juga memanfaatkan kemagisan kata tersebut: menjadi nama grupnya bahkan. Bagi beberapa orang, hal ini membuat ‘senja’ kini sudah tak se-eksklusif dulu lagi. Lalu bagi beberapa orang itu, orang yang sekarang masih menggunakan jasa kata ‘senja’ dengan sesukanya adalah kelompok yang layak untuk dianggap ‘rada kirang,’ tak kompeten, dan jauh dari kreatifitas.

Namun ada pula yang memberikan pembelaan. Menurut kelompok ini, ‘senja’ tak layak untuk disalahkan dan menjadi bulan-bulanan untuk tak digunakan lagi. ’Senja’—meski banyak digunakan orang biasa—tak serta-merta habis daya pikatnya untuk terus digunakan dalam pelbagai bentuk kesenian dan sastra.

Nah dari perdebatan itu Deri Hudaya memberikan penjelasannya. Menurutnya, memang kata-kata ‘senja’ tak salah apa-apa. Hanya kemudian orang sering tidak tepat—kalau tak menyebutnya salah—dalam penggunaan atau penempatannya. Seno Gumira adalah contoh sastrawan yang piawai dalam menggunakan kata-kata seperti senja. Atau misalnya Endah Dinda Jenura, ketika memilih diksi ‘anjing’ dalam salahsatu karyanya, tak membuat dirinya, atau bahkan karyanya tak enak dibaca, justeru malah membuat karya jadi semakin khas. Artinya, masalahnya ada di wilayah komposisi dan penempatan.

Kira-kira begitulah yang bisa tim redaksi tangkap dari perdebatan dan diskusi yang diselenggarakan pada kemarin sore itu.

Pras

Panitia mengundang Pras untuk ikut mengkhidmatkan acara. Alhamdulillah mau. Meski main di akhir, Pras tetap mengikuti jalannya acara dari awal sekali. Sungguh artis yang tidak ngartis. Patut dicontoh oleh adik-adik.

Pras memainkan enam lagu. Dari songlist yang ditaruh di atas karpet, tim redaksi berhasil menconteknya dan mengetahui lagu apa saja yang akan dimainkan. Yaitu: Rumah, Cause You’re Young, Apa Adanya, Menjadi Laki-laki, Lucky Man, dan Sweet Mountain Blues.

Penampilannya bisa dibilang eksklusif. Ia rela duduk lesehan, sama rata bersama audiens. Hasilnya jarak antara penampil dan audiens menjadi nihil. Tentu saja itu membuat suasana menjadi intim. Kami melihat audiens memperlakukan Pras seperti kawan-kawan biasa yang sudah lama saling kenal: hog-hag dan menyenangkan.

Di salahsatu lagu, Pras mengajak audiens untuk bernyanyi bersama. Meski nyanyinya cuma ‘hu hu hu haaa’ doang, tetapi itu sulit jika dilakukan oleh orang awam, apalagi yang buta nada dan buta hati. Untunglah para audiens, terutama panitia, memiliki sense of music yang lumayan sehingga bisa mengikuti lagu itu dengan apik.

Selain itu juga, Pras sempat berduet dengan Lita Ayatina. Cuman ini duet bukan sembarang duet. Pras nyanyi, lantas Lita menerjemahkannya ke dalam bahasa isyarat. Pertunjukan yang unik, bukan?

Di akhir, Pras mengajak beberapa personel Dogmie Crazy untuk main bersama. Untunglah Dicki (gitaris Dogmie) dan Om Edo (drumer Dogmie) bersedia. Yang mereka mainkan adalah Sweet Mountain Blues. Anjir, lagu pamungkas yang menurut kami sungguh keren. Audiens pun ikut menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya sesuai tempo. Dan Deri Hudaya, menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berujar “Allahuakbar Haleluya”, tampak menikmati sekali.

Kawan-kawan bisa mengikuti Pras di akun instagramnya. Cari saja @kanal.pras. Atau di spotify dan youtube juga banyak. Kalian tinggal ketik saja kanal pras di papan pencarian. Insyaallah ada.

Nb: kami juga merekam kegiatan kemarin dalam bentuk video. Nanti akan kami unggah di youtube. tunggu saja, lagi diedit katanya.