A password will be e-mailed to you.

Sewaktu membaca, terutama ketika membaca karangan sastra, ada kalanya saya terusik untuk menjadi anak-anak. Khayalan ini mungkin terlalu musykil.

Namun, seperti pagi yang baru dilahirkan kembali, mata anak-anak begitu bersih. Menawan. Pandangan mereka tak terganggu referensi yang bisa mengakibatkan seorang dewasa menuntut terlalu banyak pada bacaan. Memang sulit disangkal, bila orang mengatakan, para cendikia menggapai taraf kebijaksanaan setelah menguasai pelbagai referensi. Akan tetapi, jika sebaliknya malah referensi yang lebih berkuasa, tatapan mereka bisa lebih mencemaskan dari apa dan segala.

Tanpa penguasaan referensi, anak-anak jadi lebih mudah tertegun, bahkan oleh sesuatu yang remeh. Anak kecil tidak seperti mereka yang bisa begitu saja mengejek terhadap apa yang tidak—atau belum—mereka pahami.

Kali ini, entah keberapa kali, saya menatap lekat halaman-halaman buku AC-CIPOK 16 karya Ihung Cianda yang diterbitkan ASAS UPI, Buletin Seputar Aksi: OWAH (Opini Bukan Opini), dan Pesan Trend Cipok pada Januari 2015. Kali ini pun saya ingin memelihara kepenasaran seorang anak yang tak jemu-jemu menatap halaman rumah setiap kali turun hujan. Alhasil, seperti anak kecil pula, saya terbata-bata ketika ingin mengartikulasikan apa yang saya temukan.

***

Adalah keberagaman yang paling pertama menyita perhatian saya. Dimulai dari tema sosial hingga tema agama, dari bentuk puisi hingga serangkai soal ujian, dari bahasa Sunda hingga bahasa Jepang, tersaji dalam buku ini. Buku seakan menjadi reflika dari dunia yang tak terbatas, segala saling silang serta bertumpuk.

Hal menarik lainnya adalah menyangkut kreativitas juru desain. Act Move alias Armand Jamparing, seorang perupa jalanan dan aktivis kekerasan, yang suatu malam pernah memborgol patung-patung pahlawan di sekitar kota Bandung, mendesain buku ini sedemikian rupa sehingga membuatnya lebih sulit dicerna. Ukuran huruf dalam buku ini kecil-kecil, di luar kewajaran. Jujur, saya pembaca manja yang sudah terbiasa dengan tampilan buku yang umum. Saya jengkel sejak membuka beberapa halaman awal.

Setelah melemparnya beberapa kali, memungutnya kembali, saya jadi ketawa-ketawa sendiri. Di lain kesempatan saya hanya mengerutkan kening sambil geleng-geleng kepala. Perlu usaha keras agar dapat menikmatinya.

Narasi yang, entah sajak atau prosa, berjudul Haseupan dibuat melingkar-lingkar sehingga saya perlu memutar-mutar buku ketika membacanya. Saya seperti anak kecil yang tengah mengitari mainan.

Haseupan, alat untuk mengukus nasi, dibayangkan punya angan-angan untuk jadi manusia. Pikirannya muter-muter tak karuan. Aral. Ia tidak bisa protes pada pencipta alam semesta. Lama-lama, pikirnya, jadi manusia pun tidaklah menarik. Manusia terkungkung aturan iman dan taqwa. Lebih merdeka seekor kodok yang kelak di kemudian hari tak akan ditanya amal perbuatan.

Manusia sebagai pusat, manusia sebagai subjek unggul daripada makhluk lainnya, seperti yang diyakini orang-orang modern, dibantah dengan narasi bernada datar. Di sini, renungan religius yang berpotensi menjungkir-balik alam pikiran modern ditawarkan namun tidak diagungkan dengan berlebihan.

Beralih ke bagian lain, saya menemukan narasi yang lebih bersifat visual. Di halaman 9 saya seperti berada di jalan raya dan tanpa sengaja tatapan saya tertumbuk pada poster berisi tulisan:

“Anda sibuk, tak ada waktu ketemu Tuhan? Kami Solusinya! PT. Sarap Sejahtera! Melayani layanan doa dan ibadah lainnya.”

Ac-Cipok 16, hal. 9

Narasi ini jelas mengetengahkan ironi dari desakralisasi. Orang yang merasa sibuk, orang yang merasa awam dan tak fasih membaca doa dalam bahasa Arab sering terjerumus membayar kyai dan para santri untuk mendoakan mereka. Kasus yang paling populer dan sudah menjadi rahasia umum berkaitan dengan kegelisahan para intelektual abal-abal. Banyak politikus yang datang menemui ajengan ternama. Di akhir pertemuan akan terjadi transaksi, sang ajengan menerima amplop tebal seandainya ia bersedia mendoakan aktor intelektual yang akan mencalonkan diri sebagai bla bla bla.

Pada halaman 45 saya dapat menemukan narasi visual lainnya berjudul Karmed. Narasi ini berisi beberapa gambar: botol Anggur Merah, kemasan obat batuk Komix, Grantusif, dan lain-lain.

Barangkali cuma para pengoplos minuman yang bisa langsung paham. Gambar-gambar itu merupakan bahan oplosan yang lazim dikonsumsi para napi di sel tahanan, oleh para siswa di WC sekolah, dll. Karmed, nama seseorang yang entah siapa dan tinggal di mana, mewakili sekian banyak (bukan cuma satu!) nama korban yang telah meninggal dunia setelah menenggak oplosan. Nama Karmed saya kira menunjuk pada kelas sosial tertentu. Fenomena oplos minuman tidak terang-terangan melibatkan orang-orang elite. Maka yang muncul dalam narasi ini bukan nama tokoh besar yang menghuni menara gading semisal Habib Rizieq atau Dr. Boyke.

Memang lebih dari 50% halaman buku ini merupakan perpaduan teks-visual dan teks-tulisan. Buku ini boleh disebut karya kolaborasi antara Ihung dan Armand Jamparing. Namun, sepertinya keduanya sepakat bahwa teks-teks tertentu lebih bertenaga bila ditampilkan sederhana, tanpa ilustrasi, membiarkan imaji pembaca berkeliaran bebas, seperti bagian berikut (halaman 57):

Jika di jalan Saritem ketemu polwan cantik, telanjang, jalang dan bilang “alapyu,” apa yang anda lakukan?

a. Membiarkan diri ditilang

b. Tetep sebel karena polisi sama saja

c. No coment

Narasi di atas berada di antara narasi-narasi yang diberi judul besar Pengantar Ujian. Meski judulnya berkaitan dengan tes atau ujian formal, tapi isinya ngalor-ngidul.

Sebagaimana Mo Yan, peraih Nobel Sastra tahun 2012 dari Cina, penulis ternama dari Amerika Latin bernama Roberto Bolano, Ihung banyak memproduksi narasi tak utuh. Narasi Ihung yang berjudul Pengantar Ujian, juga meliputi sebagian besar narasi lainnya dalam buku ini, lebih menyerupai racauan. Narasinya tidak tunduk pada struktur tertentu, tubruk sana tubruk sini. Ihung bertutur seolah tanpa dipikir, seperti anak kecil yang seakan-akan tersesat dalam pengucapannya sendiri. Apabila Mo Yan dan Roberto Bolano masih setia pada genre sastra tertentu dan bahasa tertentu, Ihung bahkan mengabaikan kesetiaan-kesetiaan semacam itu. Ihung mencampur-aduk puisi dengan prosa, lalu mengkomparasikannya dengan pelbagai cara bertutur di luar sastra.

Dan yang tampak lugu, yang dianggap tabu, yang menjadi pengalaman setiap orang namun tak lazim diutarakan, diucapkannya dengan kalem dan amat sangat santai. Kekonyolan ini mengingatkan saya pada karakter Si Kabayan, tokoh cerita dari khazanah sastra Sunda lama, yang menggelikan namun sarat renungan, seolah anti moral, tidak beradab, bertutur tak ubahnya kentut.

Langkah Ihung dalam memproduksi narasi-racauan tentu bukan tindakan iseng dan berlaku hanya sementara. Setiap penampilannya di panggung teater atau sastra, Ihung tampil konsisten dengan karakter yang tak jauh berbeda. Dalam tulisan-tulisannya yang sering muncul di majalah bahasa Sunda, terutama Manglé, juga demikian. Ketika menulis di Manglé, Ihung terbatasi oleh berbagai hal. Ihung tidak bisa meracau dengan bahasa campur-aduk. Dalam buku ini, saya kira, racauan Ihung tampil lebih utuh. Bantuan visual dari Armand Jamparing telah memberi power, membuatnya lebih mudah terdeteksi sebagai keseriusan.

Para arifin kerap meragukan kebenaran yang dikemukakannya sendiri. Pembaca sengaja diberi peluang untuk tak mudah percaya pada apa yang telah mereka tulis. Tulisannya tidak ingin menjadi doktrin, racun, yang dikemas melalui pelbagai data, alasan, dan tetek bengek lainnya. Goenawan Muhamad sering menunjukkan keraguannya, baik dalam sajak maupun dalam catatan pinggir (caping), dengan banyak menghadirkan kata “barangkali”. Sementara Ihung lewat buku perdananya ini memperlihatkan keraguan dengan gaya tutur setengah konyol, setengah kocak, seperti sedang bermimpi, seperti sedang teler, brutal.

Adapun kekurangan buku perdana Ihung ini terletak pada masalah-masalah teknis. Kekacauan tanda baca hampir ada di setiap halamannya. Saya bisa saja menganggap Ihung dan tim penerbit tidak menggarap buku ini dengan matang. Kemungkinan kedua, ini adalah bagian dari strategi yang telah diperhitungkan matang-matang agar karya Ihung ini benar-benar diragukan, tak menjadi doktrin. Kemungkinan ketiga dan keempat, belum saya pikirkan.