A password will be e-mailed to you.

Membaca kabar berita RUU Permusikan yang sudah resmi ditarik oleh Anang Hermansyah dari Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, dan tentu RUU-P otomatis sudah tidak lagi masuk ke dalam Prolegnas, cukup membuat kita sedikit lega. Artinya ada peluang lain untuk RUU yang harus diprioritaskan dan segera disahkan, misalkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang memang harus jadi perhatian serius para dewan.

Namun masih tetap saja ada hal yang sedikit mengganjal, jika kita mengingat ulang draft RUU Permusikan beserta naskah akademiknya yang sedemikian chaos itu bisa lolos dan bahkan masuk prolegnas. Agaknya para penyusun Naskah dan RUU Permusikan sudah lupa sejarah—atau bahkan tidak mempelajari, bahwa musik yang selalu dinyanyikan pada upacara bendera saban hari Senin atau di setiap awal rapat kerja dulunya adalah lagu propaganda, lagu yang menghasut orang banyak untuk melakukan perlawanan, untuk memerdekakan diri, untuk berani berperang demi cita-cita bersama: Merdeka. Ya, lagu itu adalah Indonesia Raya lagu kebangsaan Republik Indonesia, lagu yang mustahil orang dewasa di Indonesia tidak mengetahuinya.

Indonesia Raya lahir dari seorang pemuda kurus berkacamata tebal, perintis kemerdekaan cum-komponis yang konon tuna asmara, alias jomblo, bernama Wage Rudolf Soepratman. Ia lahir tepat hari ini, 09 Maret 1903 di Jatinegara, Purworejo, Jawa Tengah. Dan Indonesia Raya pertama kali berkumandang pada Kongres Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Meskipun cuman gubahan nada, sontak membuat para kompeni panas jejebir (baca: telinga).

***

Lalu, apa makna Hari Musik Nasional bagi masyarakat—lebih jauhnya bagi pemerintah Indonesia hari ini? Apakah hanya sekadar seremonial belaka untuk menghormati WR Soepratman dan menghargai karya musik anak bangsa? Kalaupun kenyataannya sekadar demikian, masih lumayan bagus. Tapi ya masa iya cuman segitu.

Di Indonesia masih terlampau banyak persoalan tentang musik yang tak kunjung selesai. Lalu apakah RUU Permusikan yang kemarin ramai diperbincangkan akan menyelasaikan semua persoalan? Tentu tidak! Dari hulu sampai hilir, arus utama dan arus pinggir, dari rambut mohawk sampai rambut klimis, agaknya undang-undang tentang musik musykil menjadi solusi jitu untuk menjawab soal yang ada, apalagi dengan RUU yang kemarin lolos bergulir di parlemen.

Rasanya agak berat untuk mengatakan bahwa penetapan Hari Musik Nasional dari tahun 2013, sejauh ini belum mampu memberikan dampak secara langsung bagi pelaku musik dan masyarakat pada umumnya. Jangan berlalu jauh soal hak cipta, kita bicarakan saja dulu soal pendokumentasian musik Indonesia saat ini, entah itu ranah tradisional maupun industri. Rasanya kita masih kalah dengan negara lain, misal: Belanda yang malah punya koleksi, entah itu literatur, alat musik, maupun rilisan fisik musik Indonesia yang jauh lebih lengkap dan tersusun rapi dibanding Indonesia. Ataupun di Autralia, tepatnya di Monash University yang memiliki arsip penting dan alat musik yang dimainkan para tahanan Digoel zaman dahulu pra-Indonesia merdeka.

Indonesia tidak memiliki museum seperti Rock n Roll Hall of Fame. Namun ada sedikit pililhan jika akhirnya kita ingin menziarahi tempat bersemayamnya sejarah kejayaan industri musik Indonesia di masa lampau. Salah satunya adalah studio rekaman Lokananta di Solo. Saat ini banyak musisi yang kembali merekam karya musiknya di Lokananta, seperti Efek Rumah Kaca, Project Bahaya Laten (Jason Ranti, Sisir Tanah, Iksan Skuter), Shaggy Dog, dan terakhir adalah Slank. Ada alasan dan spirit lain yang menggiring mereka untuk rekaman di Lokananta, seperti halnya para musisi rock n’ roll seluruh dunia yang menjadikan studio rekaman Abbey Road, London sebagai pencapaian terbaik. Kedua tempat ini memiliki hal yang sama: sejarah. Namun jika dibandingkan dari segi bangunan dan fasilitas ya jauh lebih megah dan musisiawi Abbey Road.

Ada pun Museum Musik Indonesia yang berada di Malang, itu pun baru ada pada tahun 2016. Kesadaran untuk mengarsipkan musik sebagai karya adiluhung dan penanda peradaban zaman, bagi masyarakat dan pemerintah Indonesia sepertinya masih belum ada.

Soal pendokumentasian dan pengarsipan, syukurlah kita diselamatkan oleh Irama Nusantara, sekelompok pemuda Independen—salah satunya adalah David Tarigan—yang membuat platform digital pemutar musik Indonesia. Ada banyak harta karun yang bisa digali di sana. Musik lintas zaman dan aliran. Dari musik religius Minangkabau sampai musik psikedelik memabukan al a band A.K.A.