A password will be e-mailed to you.

Sudah menjadi agenda kami untuk mengunjungi orang-orang yang perlu kami kunjungi, sekalipun harus menempuh jarak beda alam. Dan dalam rubrik Berkelakar kali ini, kami mengunjungi tiga orang lintas disiplin dan generasi, yakni Sutan Sjahrir, Benyamin Suaeb, dan Basuki.

Alasan kenapa kami memilih tiga orang tersebut adalah berdasarkan perhitungan weton dan variasi dalam bidang keahlian, demi mejawab persoalan yang dewasa ini kami temukan, yakni: situasi politik dalam negeri yang semakin mengarah ke dunia lawak secara ekstrem.

Ketiga orang itu kami nilai sangat tepat untuk menjawab persoalan ini. Sjahrir di dunia politik—yang kita semua tahu kalau beliau ini adalah salahsatu bapak republik bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan Tan Malaka. Lalu Babeh Benyamin S datang dari dunia penyanyi dan perfilman. Serta terakhir Basuki Tjahaya Purnama dari dunia perlawakan. Kumplit sudah ketiga orang tersebut mewakili dunianya masing-masing dalam menjawab persoalan di atas: situasi politik dalam negeri yang semakin mengarah ke ranah lawak secara ekstrem. Terlebih ketiganya lahir pada tanggal yang sama: 5 Maret.

Namun kami punya kendala, yakni: bagaimana caranya pergi ke Akhirat tanpa harus mati dulu? Tentu dari kami tak ada yang mau. Kami masih muda belia, belum menikah, dan belum menghajikan orangtua. Nyaris saja kami batalkan agenda kunjungan ke Akhirat ini. Untungnya kami pantang menyerah.

Adalah pikiran kami yang pandai melantur serta literatur yang tak kalah ngawur, yang membantu kami menyelesaikan kendala di atas. Pikiran yang rentan melantur ini kami dapatkan sebagai akibat dari jarang—bahkan tak pernah—mengaji atau sekadar sekolah agama, hingga pekatlah hati kami dan terhindar dari jalan yang lurus. Dan literatur-literatur ngawur kami dapatkan dari catatan-catatan kuliah online bersama Prof. Dr. Anton, M.Dut dalam mata kuliah jurnalmistik.

Dengan menggunakan kompetensi kami di bidang kemelanturan itu, kami dapat menemukan sebuah buku yang berjudul Digitalisasi Akhirat. Dan dari sana kami pun menemukan informasi bahwa kini alam akhirat sudah bisa diakses melalui internit, dengan mengunjungi situs http://tutug.on.com. Dari buku itu juga ada informasi tambahan yang mengatakan bahwa, dalam mengakses situs tersebut, kita harus ada dalam pengaruh asap rumput sintetik.

Ketika kami mengakses situs tutug.on.com itu, kami beruntung sebab langsung dapat menemukan akun Sjahrir, Benyamin, dan Basuki dalam keadaan online. Langsung saja kami masukkan ketiganya ke dalam grup chating yang kami namai 5 Maret Proud. Keberuntungan kami itu terus berlanjut ketika ketiganya mau membalasi chat dari kami serta menjawab semua yang kami tanyakan.

Baiklah, agar tidak terlalu panjang dan bertele-tele, kita langsung saja ke bagian percakapan antara tim redaksi dengan Sjahrir, Benyamin, dan Basuki via chating di tutug.on.com. Selamat menyimak.

***

Redaksi
P

Sjahrir
P

Benyamin
Wuyuuu

Basuki
mengetik

Redaksi
Hallo bapak-bapak. Apa kabar?

Benyamin
Siape lu?

Redaksi
Kenalkan. Kami dari Kelakar Fibrasi. Media online yang jarang online.

Benyamin
Ngapain?

Basuki
mengetik

Redaksi
Mau mewawancarai bapak-bapak sekalian. Bung Sjahrir. Babeh Benyamin. Dan Mas Karyo, eh, Mas Basuki. Hehehe.

Benyamin
Oh.

Basuki
Left group

Redaksi
Gimana, boleh?

Benyamin
Aye mah gimana Bung Sjahrir aje. Pegimane nih Bung @Sjahrir

Redaksi
Iya, bagaimana, Bung? 🙂

Sjahrir
Ya, boleh.

Redaksi
Mantap.

Benyamin menambahkan Basuki ke dalam grup

Sjahrir
Tapi tidak bisa lama-lama. Kami tidak punya banyak waktu, cuma 0,0000000001 detik.

Redaksi
Apa?

Benyamin
1 detik di dunia = setahun di akhirat.

Redaksi
Oh. Iya atuh. Okeh, langsung saja pertanyaan pertama buat Bung Sjahrir.

Basuki
mengetik

Sjahrir
Baik.

Redaksi
Dewasa ini, situasi politik dalam negeri tampak semakin bercampur baur dengan lawak. Bagaimana menurut Bung Sjahrir perihal ini?

Basuki
Waspadalah!
Bagi yang mau melintasi daerah Sunar (Surga Naraka), harap hati-hati sebab sekarang tengah terjadi bentrokan gengster, antara sekelompok malaikat dan kelompok belis.

Benyamin
Hoaks. Jangan share yang begituan di sini lu ah!

Redaksi
@Sjahrir up: Dewasa ini, situasi politik dalam negeri tampak semakin bercampur baur dengan lawak. Bagaimana menurut Bung Sjahrir perihal ini?

Sjahrir
Ya. Saya kira itu bagian dari strategi dalam mendongkrak elektabilitas calon tertentu. Masyarakat kita kini sudah antipati terhadap politisi. Akhirnya citra politik dalam negeri jadi hambar. Lantas, para elite berlomba-lomba mengubah paradigma itu. Kini mereka mengedepankan bungkus ketimbang substansi. Tetapi hasilnya malah bikin kita semua menangis: maksudnya tertawa sampai mengeluarkan air mata.

Redaksi
Kalau menurut Babeh @Benyamin?

Benyamin
Apaan?

Redaksi
Up: Dewasa ini, situasi politik dalam negeri tampak semakin bercampur baur dengan lawak.

Basuki
mengetik

Benyamin
Kagak tau juge dah. Kagak mantau politik sih. Bret… bret… aja gua mah.

Redaksi
Oh, baiklah. Kalau menurut Mas @Basuki?

Basuki
mengetik

———30 menit kemudian———

Redaksi
Mas @Basuki?

Basuki
mengetik

Redaksi
Baiklah, sambil menunggu jawaban Mas Basuki yang sepertinya panjang lebar, kita lanjut saja ke pertanyaan kedua. Menurut Bung @Sjahrir, apa perbedaan situasi politik zaman dulu dengan situasi politik zaman sekarang?

Sjahrir
Ada beberapa yang sama, dan ada pula yang berbeda.

Redaksi
Yang samanya apa saja, Bung?

Sjahrir
Misalnya soal hoaks. Sebetulnya dari dulu sudah ada. Tapi tak segencar sekarang. Masalahnya dulu tidak ada media yang mampu menyebarkan kabar-kabar bohong itu secara masif. Meski penyebarannya tidak secepat sekarang, tetapi itu cukup efektif untuk dicatat dalam buku-buku sejarah.

Redaksi
Menareeque. Contoh hoaks zaman dulu apa misalnya, Bung?

Sjahrir
Misalnya soal penculikan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.

Redaksi
Oh, jadi itu penculikan itu adalah hoaks?

Sjahrir
Bukan begitu. Penculikan itu memang terjadi. Tetapi yang keliru adalah masalah subjek dan objek. Sebab, sebetulnya kaum mudalah yang diculik Bung Karno dengan menyuruh anak buahnya Laksamana Maeda.

Redaksi
Oh. Terus, tadi kan persamaan, nah sekarang perbedaannya.

Sjahrir
Dalam segi perbedaan, tentu banyak perkembangan yang pesat. Misalnya soal hak bersuara. Dulu kan sangan terbatas. Contohnya perdebatan antara saya dan Bung Karno perihal apakah kita akan menganut sistem parlementer atau presidensil. Nah, perdebatan semacam itu tak diberi ruang yang cukup. Akibatnya pemerintahan berjalan seolah terseok-seok.

Redaksi
Dan akibat perdebatan itu Bung Sjahrir jadi diasingkan, betul?

Sjahrir
Hmmm.

Redaksi
Tapi pada akhirnya Bung diberi predikat sebagai pahlawan nasional, seperti halnya Tan Malaka.

Sjahrir
Ya. Tapi tolong, saudara redaksi jangan panggil saya “Bung” lagi.

Redaksi
Loh, kenapa?

Sjahrir
Makna “Bung” kini mengalami perubahan. Dulu kami bangga dipanggil dengan sebutan “Bung”. Maknanya bisa connect dengan pergerakan, perjuangan, filsafat, dan idealisme. Tapi kini, kalau dipanggil begitu, kami seolah merasa jadi seorang komentator bola.

Redaksi
Oh. Jadi, politisi zaman sekarang harus dipanggil dengan sebutan apa?

Sjahrir
Haji.

Redaksi
Ha ha ha.

Basuki
mengetik

Redaksi
Oke, baiklah. Nah sekarang saya mau tanya sama Babeh @Benyamin. Beh, apa perbedaan situai perlawakan zaman dulu dengan situasi lawak zaman sekarang?

Benyamin
Pegimane ye. Kagak tau juga si. Lawak zaman dulu kan nyang penting ketawe. Kalau sekarang, kayaknye pade ribet aje tuh pelawak-pelawak. Malah pade kesandung kasus narkoba. Nyang jadi caleg juge banyak, Tong! Itu artinye, pelawak-pelawak udeh kagak percaye ame kualitas lawakannya ndiri. Tau dah.

Redaksi
Oh, begitu ya. Kalau menurut Mas @Basuki?

———5 menit kemudian———

Redaksi
Mas @Basuki?

Benyamin
Masih idup lu, @Basuki?

Redaksi
He he he.

Basuki
Piye?

Benyamin
Au ah!

Redaksi
Ya sudah, kita lanjut saja ke pertanyaan selanjutnya.

Sjahrir
Ini pertanyaan terakhir ya. Saya mau ada rapat.

Benyamin
Iye, gua juge mau ade suting. Terakhiran ye, Tong!

Basuki
mengetik

Redaksi
Iya, baiklah. Sayang sekali memang. Tapi tak apa. Baiklah ini pertanyaan terkahir. Sekarang kan ada dua calon presiden. Pak Joko dan Pak Prab.

Sjahrir
Pakai Haji!

Redaksi
Oh iya, maap. Haji Joko dan Haji Prabowo. Nah, Haji Sjahrir milih siapa?

Sjahrir
Saya milih Haji Joko.

Redaksi
Alasannya?

Sjahrir
Mirip teman saya: Njoto.

Redaksi
Kalau Babeh @Benyamin?

Benyamin
Gua milih Haji Prabowo aje dah.

Redaksi
Alasannya?

Benyamin
Mirip teman saya: Ateng.

Redaksi
Kalau Mas @Basuki?

Basuki
Aku milih Dildo. Mcqueen yaqueen.

Redaksi
Ha ha ha ha. Baiklah kalau begitu. Terima kasih semuanya sudah menyempatkan waktu 🙂

Sjahrir, Benyamin, Basuki keluar dari grup

***

Demikianlah percakapan kami bersama Sjahrir, Benyamin, dan Basuki. Mari kita doakan mereka semoga ditempatkan di dalam kebahagiaan yang Tuhan hendaki. Aammiin.

Juga kita doakan semoga situasi politik dalam negeri dapat menemukan titik kewarasan dan lantas beristiqamah di dalamnya. Aammiin lagi.