A password will be e-mailed to you.

Diam-diam aku harus menjadi orang lain, memakai baju orang lain, memakai celana orang lain, memakai sepatu orang lain,  termasuk mata, kaki, tangan, hidung, dan lain sebagainya adalah orang lain. Begitulah pikirku dan ini pertama kalinya aku menjadi aktor. Entah dengan alasan apa ingin memainkan Hamlet, aku sudah lupa.

Berada di atas panggung sebagai orang yang ditonton dengan duduk menonton, sungguh berbeda. Pertama kali menonton pertunjukan di Gedung Kesenian Tasikmalaya, dan di halaman rumah Acep Zamzam Noer. Sejak saat itu, aku selalu menyempatkan waktu untuk menonton ketika ada pertunjukan. Menjadi aktor merupakan sesuatu yang tidak dibayangkan saat melihat pertunjukan. Justru mencari  hal-hal luput dari kehidupan di sekitar, begitulah alasanku menonton teater untuk pertama kalinya. Bahkan ada kalanya aku menonton teater tanpa alasan, bukankah dunia ini sandiwara?

“Lupakan dirimu John.” Bisikku dalam hati ketika pertama mulai menjalani peroses menjadi aktor.

Kini kamarku punya dua lemari. Lemari berwarna hijau untuk Hamlet dan lemari berwarna coklat untuk John. Dan sebuah ranjang untuk tidur berdua.  John mudah sekali tertidur sehingga ketika naik angkot atau bus sering nyasar karena ketiduran. Sebaliknya, Hamlet mungkin kurang tidur. Terlihat dari matanya berwarna kemerahan. Meski satu kamar dan tidur satu ranjang, tapi John dan Hamlet tidak pernah saling bicara. Sebuah perbedaan yang konyol dan tidak menunjukan apa-apa hanya sebatas anggapan saja. “Aku Hamlet,” bisikku saat bangun tidur, melihat cermin dan ketika ingat bahwa aku bernama John.

John terus saja mencari tahu bagaimana cara menjadi Hamlet. Mula-mula mengurung diri dalam kamar selama beberapa minggu dan menghindari bertemu dengan orang. Katanya ini semacam meditasi. Sendiri dalam kamar, tak ada cahaya yang masuk sebab jendela dan pentilasi ditutup dengan kain dan listrik dimatikan. “Barangkali dalam gelap aku bertemu Hamlet,” bisik John dalam hati.

Sepanjang hari hanya tidur, makan dan menatap cermin. Tapi tak ada bayangan maupun tanda-tanda adanya orang lain selain John di kamar menatap cermin. Setiap melihat cermin, John hanya menemukan kembaran dirinya.

“Aku benci melihat mukamu, bangsat!” ucapnya ketika detak jam terdengar lebih lambat di telinga.

Tiba-tiba saja John teringat kematian pamannya tujuh belas tahun lalu di Tasik, dipasung di kamar setelah ngamuk dan dianggap gila oleh para tetangga. Tubuhnya reyot dan tipis dengan mata yang menjorok ke dalam dan berwarna gelap seperti sebuah sumur. “Wa Endang” begitulah biasanya paman aku panggil. Dulu Nenek bilang, “paman itu ketika mudanya sering pergi ke gunung, ke tempat-tempat keramat, dan lantas bertapa. Bertahun-tahun tidak ke rumah dan pulang-pulang sudah gila.”

Hanya itulah yang John tahu tentang pamannya. Itu pun dari cerita Nenek sebab John baru bertemu dengan pamannya pada usia lima belas tahun, dan pamannya sudah dikurung di kamar.

Tiba-tiba pula John teringat kematian ibunya di RSUD Ciamis, di ruang mawar nomer lima setelah mengalami koma selama lima hari.

“Pembuluh darah di kepala ibumu pecah, berdoa saja. Kami akan berusaha.” Begitulah dokter bilang.

“Sunguh aku tidak tahu apa yang terjadi pada ibu. Aku hanya sering melihat ibu membentur-benturkan kepala ke dinding dan katanya sedang pusing.“ Bisiknya dalam hati.

Mungkin satu-satunya yang membuat John teringat pada ibunya adalah ia belum sempat mengatakan terimakasih, sebelum benar-benar pergi.

Teringat pula ayahnya meninggal waktu pagi buta, setelah adzan subuh.  “Sunguh aku tidak mengira bahwa pagi itu, ketika memijat kaki ayah yang sakit adalah pertemuan terakhir dan tiba-tiba saja aku kehilangan bahasa.”

Tak semenit pun Hamlet singgah dalam mimpi John saat terlelap tidur, tidak juga melintas dalam benak. Padahal tidur merupakan waktu yang paling tenang untuk meningat. Semakin lama dibayangkan justru yang hinggap satu-satu ialah ingatan akan ibu, ayah, sodara dan rumah. Beberapa minggu dalam kamar, Hamlet menjadi lebih jauh dari masa lalu, dari ingatan John.

“Pernahkah aku berpura-pura menjadi aku? Tentu saja tidak! Maka tentu saja Hamlet tidak akan berpura-pura menjadi Hamlet!” Bisik John pada angin dengan wajah yang kusut.

“To be or not to be,” itulah teks dari Hamlet yang memberi gambaran seorang aktor bekerja menggunakan tubuh, satu-satunya perangkat yang dimiliki. Ada jarak yang membentang antara John dan Hamlet. Jarak itulah yang kini aku sadari, lebih dari sekadar perasaan semata. Ingatan, sejarah, politik dan lain sebagainya turut mempengaruhi kepada cara melihat dan memposisikan Hamlet.

Kamar pengap dan rumah untuk kecemasan. Gambaran itulah yang muncul dalam kepala ketika mengingat Hamlet.  Namun, jika ingin seutuhnya menjadi Hamlet, maka John tentunya harus lebih dari sekadar membenci dan melupakan diri sendiri ketika melihat cermin. Menjadi Hamlet berarti menyiapkan upacara bunuh diri sekaligus pemakaman untuk John. Menjadi aktor berarti membiarkan diri menjadi tiada, rumah kosong. Tubuh ini ialah tempat untuk Hamlet tinggal menata hidup, bersandiwara, lantas bunuh diri minum racun. Maka tentu saja acting bukan hanya soal mimik semata, lebih dari itu, acting merupakan keseluruhan yang dipinjam dari Hamlet.

Persoalannya kemudian, bagaimanakah cara mengembalikan sesuatu yang dipinjam dari Hamlet, sehingga tubuh ini bisa kembali menjadi John? Itulah yang aku pikirkan selepas tepuk tangan penonton di akhir pertunjukan.

Ceritanya mungkin akan menjadi lain ketika ada dua tubuh yang saling menukarkan bagian tubuh masing-masing, sehingga sewatu-waktu bisa ditukar kembali. Tapi tubuh ini hanya satu dan telah dibawa mati oleh Hamlet. Seperti pula penonton, selepas pertunjukan aku pulang ke rumah. Di kamar masih ada lemari berwarna hijau untuk Hamlet,  satu lemari berwarna coklat untuk John, dan sebuah ranjang untuk tidur berdua. Sialnya, aku kembali ke rumah melanjutkan sandiwara. Satu-satunya kesalahan barangkali karena dilahirkan.