A password will be e-mailed to you.

Di Lorgeng, pada sebuah kontrakan yang lebih mirip kandang babi, Alahamain terlihat murung. Kabar kedatangan pasukan kavaleri tikus makin santer terdengar. Alahamain yang tak suka dengan peperangan menjadi sangat lesu. Ia kehilangan 80% semangat hidupnya dan 20% lainnya ia sisakan untuk mencoba bunuh diri jika dibutuhkan.

Pasukan kavaleri tikus dikenal sebagai kesatuan paling disegani dalam korps binatang pengerat. Kedatangannya telah memberikan dampak buruk yang tak terperikan. Misalnya, sepuluh tahun yang lalu, di Lejamengka, pasukan kavaleri tikus berhasil menggasak lumbung padi warga. Satu juta penduduk di sana mati mengenaskan karena kehabisan persediaan makanan dan nahas, setiap mayat yang tergelepar meninggalkan luka gigitan di perutnya.

Pergerakan pasukan kavaleri tikus sangat cepat. Dari waktu ke waktu, setiap daerah yang dilaluinya habis tak bersisa. Setiap tempat persinggahannya selalu dijadikan basis kekuasaan barunya. Terakhir, pasukan kavaleri tikus telah mencapai Ratjaningror atau satu bulan jarak dari Lorgeng. Tak ayal hari-hari Alahamain jadi tak membahagiakan lagi. Saban hari bobot tubuhnya merosot drastis.

Penduduk Lorgeng yang telah mengetahui pergerakan pasukan kavaleri tikus mencoba membuat tanggul pertahanan terbaiknya, terlebih, sebagian penduduknya adalah pensiunan tentara nasional. Ajaibnya, Alahamain ditunjuk sebagai jenderal pelaksana pertahanan. Bukan main tegangnya Alahamain, bagaimana bisa seorang yang lemah seperti dirinya dipercaya menjadi pemimpin garda depan pertempuran besar. Tapi keputusan penduduk Lorgeng sudah bulat untuk Alahamain, ambil mandat atau ditembak mati di Lapang Dakpa.

Menurut informasi dari intel lapangan, pasukan kavaleri tikus telah bertambah sepuluh kali lipat. Korps hewan pengerat dari semua kesatuan telah berkonsolidasi, termasuk pasukan khusus penyerang cepat yang ketangkasannya sangat ditakuti. Konon, pasukan inilah yang akan membuka jalan untuk menyerang Lorgeng.

Siasat pasukan kavaleri tikus tak mudah dipetakan meskipun para intel telah mencari informasi sebanyak-banyaknya. Jumlah pasukan yang berlipat sepuluh kali lipat sesungguhnya adalah informasi yang simpang siur dan dibuat agar penduduk Lorgeng selalu siaga.

Hari kesepuluh menuju Lorgeng, setelah pasukan kavaleri tikus membobol pertahanan Rubicu, Juberjungu, Hacieum, Cusi dan Agod, bau peperangan di Lorgeng makin tercium. Alahamain memerintahkan tanggul ditinggikan melebihi gapura selamat datang kota/ kabupaten. Seolah-olah Lorgeng dibuat menjadi kerajaan terisolir. Satu wilayah yang belum disisir pasukan kavaleri tikus, Ujaksadiu, diperkirakan akan memberikan perlawanan berarti seperti perang rakyatnya ketika menghadapi Belanda dan Jepang.

Setelah pasukan kavaleri tikus melumat Ujaksadiu dengan perlawanan sengit, tibalah mereka di depan tanggul pertahanan Lorgeng. Jenderal Alahamain yang telah membuat plot pertempuran memberikan perintah pada pasukan pemanah untuk mencecar kavaleri tikus tanpa ampun.

“Jangan beri kesempatan mereka membacot sepatah kata pun, oke!”

Perintahnya disambut pekik penduduk Lorgeng. Pasukan penyerang cepat kavaleri tikus yang sudah bergerak saat Jenderal Alahamain bersungut-sungut mulai melubangi tanggul pertahanan.

Cerdiknya, satu meter menuju barisan terdepan pasukan Lorgeng dibuat parit bensin yang siap dibakar untuk memutus serangan cepat pasukan kavaleri tikus. Ternyata strategi tersebut cukup berhasil meskipun ada sebagian pasukan penyerang cepat kavaleri tikus yang mampu melewatinya. Dari atas gerbang tanggul, para pemanah mulai menghujani pasukan kavaleri tikus dengan panah api dan tanpa waktu lama, perang besar pun terjadi.

Pertempuran besar itu berlangsung hingga satu minggu. Kedua kubu telah kehilangan banyak korban tapi Jenderal Alahamain meyakini kemenangan akan berada dipelukannya dan rakyat Lorgeng. Saat malam purnama terang penuh, Jenderal Alahamain untuk pertama kalinya melewati garis pertahanannya sendiri untuk menyerang penuh pasukan kavaleri tikus yang masih tersisa dan peristiwa itulah yang mengakhiri pertempuran terbesar dalam 150 tahun terakhir di Lorgeng dengan kemenangan Jenderal Alahamain dan rakyat Lorgeng.

Berkat peristiwa luar biasa itu, Alahamain memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum Lorgeng untuk mengecor semua lubang saluran pasukan kavaleri tikus di seantero Lorgeng dan wilayah sekitarnya dan atas desakan para cendekia dan filsuf Lorgeng, ia harus mengucapkan sumpah untuk memastikan bahwa pasukan kavaleri tikus telah habis ditumpas. Apabila dalam waktu sebelum ia minggat dari Lorgeng ditemukan barang hanya seekor tikus saja, ia akan digantung di Lapangan Dakpa.

Lalu hari-hari bergerak dengan penuh geliat kembali. Lorgeng menjadi pusat percontohan pertahanan dan strategi militer seantero Ungbabad dan untuk menghargai jasa-jasanya, Jenderal Alahamain dinobatkan sebagai The Great Alahamain oleh rakyat Lorgeng mencontoh keperkasaan tokoh The Great Alexander saat memenangkan perang besar Gaugamela menaklukan Persia. Namun, hari-hari pasca kemenangannya dan rakyatnya, bobot tubuhnya yang kurus tak juga menunjukkan kenaikan berarti padahal ia tak pernah kekurangan lagi makanan dan kandang babi tempat tidurnya telah disulap oleh rakyat Lorgeng menjadi istana. Hal itu membuat heran semua rakyat Lorgeng.

Saat hari pengumuman pengunduran diri dari jabatan jenderalnya dan berpamitan untuk mengabdikan ilmu strategi peperangan di kampung halamannya, Alahamain melupakan satu hal yang selama ini ia sembunyikan. Seekor tikus putih peliharaannya melenggang begitu saja di bawah kakinya saat ia dilepas oleh rakyat Lorgeng. Ia lupa memberikan makanan saat ia hendak naik podium untuk mengucapkan salam perpisahan. Sontak hal itu membuat rakyat Lorgeng geram.  Salah seorang rakyat Lorgeng yang dikenal sebagai filsuf cerewet, Zisa, melantangkan hasutan.

“Wahai jenderalku, sehebat apapun perjuanganmu di medan pertempuran, tapi kata-katamu, sumpahmu, tak dapat ditarik kembali.”

Hasutan yang terdengar menggema langsung dipahami rakyat Lorgeng. Dengan cepat, perangai rakyat Lorgeng berubah seperti binatang buas dan Alahamain langsung diseret menuju Lapangan Dakpa beramai-ramai.

Dengan penuh ketegangan dan rasa iba Alahamain melenggangkan kakinya menuju tiang gantungan. Meskipun ia telah meminta maaf dan meronta di hadapan para pengadil, namun tak ada seorang pun yang menggubris usahanya. Seorang algojo dengan urat-urat tangan sebesar kabel PLN mengangkat Alahamain ke tali gantungan. Saat Alahamain memejamkan matanya dan tali mulai merengkuh kulit lehernya, tiba-tiba tikus putih peliharaannya menyela teriakan rakyat Lorgeng. “Bukan salah Tuan Alahamain, akulah yang seharusnya kau gantung.”

Zisa yang lidahnya lebih berlendir dari tikus putih Alahamain dengan segera menampiknya. “Kau boleh menggantikan tuanmu untuk digantung tapi tidak dengan sumpahnya”. Dan rakyat Lorgeng kembali bersorak mendengar argumen Zisa.

Akhirnya Alahamain dan tikus putihnya sama-sama dieksekusi di tiang gantung. Dengan seketika suasana Lapangan Dakpa menjadi hening. Seorang jenderal mati dengan cara tragis.

Cerita kematian tragis Jenderal Alahamain dan tikus putihnya dikisahkan berpuluh ribu kali jauh di sarang-sarang para tikus. Aku tahu karena aku telah menggabungkan diri dengan pasukan baru kavaleri tikus untuk membalaskan dendam.

Bandung, 1 Maret 2018