A password will be e-mailed to you.

Hari ini, 30 Desember, tiba-tiba kami rindu pada Gus Dur. Satu-satunya presiden yang sangat kami cintai—selain Franklin D. Roosevelt (kalau sama Erdogan mah rada enggak).

Lantas, kami bermunajat pada Tuhan penguasa kehidupan, agar supaya menempatkan kami bersama orang-orang yang sedemikian keren itu kelak di surga.

Sementara hari ini, untuk menetralisir kekangenan, kami bikin sebuah wawancara eksklusif bersama beliau. Kami melakukannya sambil melamun, sedikit menulusuri satu-dua literatur, dibarengi dengan rasa penuh ketakziman, ketabikan, dan kecintaan. Semoga berkenan 🙂

***

Hallo, Gus Dur!

Hallo!

Assalamualaikum jangan?

Jangan.

Lho, kenapa, Gus?

Mengucapkan salam itu kan untuk mendoakan keselamatan. Sementara sekarang saya sudah selamat. Tinggal kamu-kamu yang belum.

Hehehe. Iya juga ya. Jadi, harusnya bagaimana?

Harusnya bilang: Assalamu alaina, bukan assalamu alaikum.

Oh, iya deh. Assalamu alaina!

Aamiin.

Amin rais?

Ha ha ha.

Apa kabar, Gus?

Baik. Kalian, bagaimana?

Pelik, Gus.

Lho, pelik gimana?

Ya, kami bingung dengan semua kehidupan ini, Gus. Cita-cita, orangtua, dan cinta, seolah semuanya saling berlari ke arah yang berlawanan.

Oh.

Kok cuma oh!

Lha, kamu maunya apa?

Nasihat  dong, Gus! Baiknya mesti bagaimana kami-kami ini.

Oh, kalau mau nasihat, sama Tereliye aja. Tapi sekarang beliau belum datang. Masih hidup di dunia.

Kapan Om Tere mati? Gus Dur tahu gak?

Gak tahu. Mesti hitung wetonnya dulu. Hari apa dia lahir. Itu menentukan kapan dia mati.

Oh. Tapi Gus Dur wetonnya hari apa?

Sabtu.

Kalau Sabtu, berarti matinya hari apa?

Rabu, kayaknya. Tapi saya lupa. Kan waktu dicabut nyawa, saya tak ingat apa-apa. Tahu-tahu sudah di surga.

Kalau dari media, tahunya Gus Dur meninggal tanggal 30 Desember. Sembilan tahun yang lalu.

Oh iya?

Iya.

Baru tahu, saya.

Padahal itu dua hari lagi ke tahun baru lho, Gus. Sayang kan. Mbok ya ditahan dulu matinya.

Lho ya gak bisa ditahan-tahan. Mati ya mati. Tapi meskipun begitu, ya saya sebetulnya kepingin merayakan tahun baru waktu itu.

Oh, emangnya boleh merayakan tahun baru?

Lho, emangnya siapa yang ngelarang?

Ya orang-orang di tempat kami melarangnya. Katanya “gerakan sepikan malam tahun baru”.

Mungkin itu salahsatu bentuk merayakan juga. Kan merayakan bukan berarti harus selalu hura-hura dan pesta. Dengan merenunginya pun saya kira termasuk ke dalam merayakan.

Kalau pesta-pesta gitu boleh gak, Gus?

Ya boleh.

Tapi banyak yang bilang kurang etis kalau diadakan pesta, sebab Indonesia kini tengah ditempa banyak bencana.

Ya pestanya dong jangan berlebihan. Untuk sekadar bersuka cita dan bergembira, boleh saja. Bahkan perlu.

Kenapa perlu?

Ya salahsatunya kan bisa menggerakkan perekonomian juga. Mungkin ada saudara-saudaramu yang berjualan ketika perayaan tahun baru. Kalau semua diam di rumah, siapa yang mau beli pedagang-pedagang yang nasibnya kurang beruntung itu?

Hehehe iya juga ya. Eh, tapi, Gus, katanya bencana-bencana seperti longsor, gempa, banjir, tsunami itu diakibatkan oleh manusia yang hobi bermaksiat. Lgbt lah, mabok lah, zina lah, dan lain sebagainya. Sementara pesta-pesta identik dengan kemaksiatan tersebut.

Hmmm. Indonesia ini rawan bencana. Bangsa ini harus siap menghadapinya dengan perhitungan rasional, jangan dihubungkan dengan mistik. Nggak usah dihubungkan dengan kemaksiatan seseorang[1].

Iya, iya, iya. Berati boleh ya pesta tahun baru?

Boleh.

Kalau Natal?

Ya terserah.

Tapi kan gak boleh sama MUI. Bahkan, sekadar ngucapinnya aja dipermasalahkan.

Ya memang agak repot MUI ini. Persoalannya adalah tidak jelasnya status keputusan yang dikeluarkan MUI: di mana titik pijak berpikirnya dan kepada siapa ia selalu harus berbicara.

Dari fatwa Natal, apakah lalu akan keluar fatwa tidak boleh pacaran? Apakah menganggukkan kepala kalau bertemu gadis juga dimasukkan di dalam kategori pacaran? Bolehkah nanti anak saya bersekolah satu bangku dengan murid lain yang beragama Budha?

Kalau tidak ada keinginan menetapkan ujung persoalannya, jangan-jangan nanti kita tidak boleh membiarkan orang Kristen naik taksi yang kacanya tertulis Bismillahirrahmanirrahim.

Oleh karena itu, mengapakah tidak kita mulai saja mengusulkan batasan yang jelas tentang wilayah “kajian” (atau keputusan, atau pertimbangan, atau entah apa lagi) yang baik dipegangi oleh MUI? Mengapa bukan masalah-masalah dasar yang dihadapi bangsa saja: bagaimana merumuskan kemiskinan dari sudut pandang agama, bagaimana meletakkan kedudukan upaya penanganan kemiskinan oleh berbagai lembaga di bawah? Bagaimana pula kaum muslimin seyogyanya bersikap pada ketidakadilan, terhadap kebodohan? Jawabannya tentulah harus terperinci dan konkret, jangan cuma sitiran satu dua hadits tentang kewajiban belajar hingga ke liang kubur saja.[2]

Iya, Gus, iya. Kami mengerti. Tapi sesungguhnya, MUI itu kerjanya ngapain aja, Gus?

Lembaga seperti MUI memang dibuat sekadar sebagai penghubung antara pemerintah dan umat pemeluk agama Islam, itu pun yang masih merasa memerlukan kontak keluar. Ia hanyalah sebuah pusat informasi yang memberikan keterangan tentang umat kepada pemerintah. Tidak lebih dari itu.[3]

Tapi Gus Dur ngerasa gak kalau lembaga-lembaga seperti MUI, atau bahkan Islamnya sendiri banyak dimanfaatkan orang?

Ya. Dan memang yang terpenting yang harus Anda (atau siapapun) kerjakan adalah menghindari terjadinya kekerasan kelompok dan unsur-unsur yang ingin menggunakan agama sebagai kendaraan politik.[4]

Unsur-unsur yang ingin menggunakan agama sebagai kendaraan politik misalnya apa, Gus?

ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia), misalnya. Bagi Soeharto, ICMI merupakan perpaduan kepentingan jangka pendek. Dia pikir ia dapat mengendalikan (kaum modernis ICMI) jika mereka bertindak terlalu jauh.[5] Tapi itu zaman Orde Baru. Dan mungkin akan terus berulang. Kita mesti dapat belajar.

Kalau serangkaian aksi bela Islam yang ramai sejak pilgub Jakarta kemarin?

No comment. Ha ha ha.

Hahaha. Kenapa no comment? Takut sama FPI ya?

He he he. Organisasi buajingan[6].

Ha ha ha.

Makanya. Informasi dan ekspresi diri yang dianggap merugikan Islam sebenarnya tidak perlu dilayani. Cukup diimbangi dengan informasi dan ekspresi diri yang positif konstruktif. Kalau gawat, cukup dengan jawaban yang mendudukkan persoalan secara dewasa dan biasa-biasa saja. Tidak perlu dicari-cari. Islam perlu dikembangkan, tidak untuk dihadapkan pada serangan orang. Kebenaran Allah tidak berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan orang. Maka ia pun tenteram. Tidak lagi merasa bersalah berdiam diri. Tuhan tidak perlu dibela, walaupun tidak juga menolak dibela. Berarti atau tidaknya pembelaan, akan kita lihat dalam perkembangan di masa depan.[7]

Tapi, Gus, kami suka greget  kalau ada orang, apalagi yang muslim, dianiaya orang. Kasus Palestina, misalnya.

Kekuatan militer Palestina mau tidak mau harus melihat kenyataan pahit: Israel sama sekali bukan macan kertas, dan perjuangan mereka sendiri ternyata tidak seefektif harapan mereka. Kesadaran ini mungkin datang sudah terlalu terlambat, ketika segala-galanya berakhir pada kebuntuan.[8]

Lantas mesti bagaimana kalau sudah begitu?

Nah, dari situasi militer serba tragis itulah akan muncul ‘hikmah’ yang tidak diperhatikan bangsa Palestina sendiri selama ini, minimal dalam retorika militer mereka. Bentuknya adalah gerakan politik yang akan mampu memanfaatkan situasi bagi berdirinya sebuah negara Palestina di kemudian hari. Sebuah entitas politik, entah itu tetap PLO atau bukan, dan kemungkinan besar berlokasi di Kairo atau Tunisia, yang akan berpolitik fleksibel dan dewasa.

Bagaimanapun juga kemahiran diplomatik negara-negara Arab kaya minyak semakin hari semakin bertambah. Juga lokasi geo-politis negara-negara Arab di persimpangan tiga benua. Lebih penting lagi potensi ekonomisnya sebagai daerah industri di kemudian hari, serta sebagai pasaran ekspor Jepang, Eropa Timur dan Barat, serta Amerika Serikat.

Semua itu faktor ‘plus’ sebagai penunjang (dan sering sebagai penentu) politis untuk menumbuhkan sebuah negara baru bagi bangsa Palestina. Negera yang harus menerima kenyataan adanya Israel sebagai tetangga, tetapi juga yang berdaulat atas diri sendiri.

Ini bukan perjuangan ringan dan mungkin berlangsung belasan tahun, tetapi bagaimanapun memiliki tujuan yang realistis dan dapat diwujudkan. Tidak seperti ‘ideologi menghancurkan Israel dan melempar orang-orang Yahudi ke laut’ yang didengungkan PLO sekarang. … Di saat itulah entitas politis Palestina akan merebut eksistensi sebagai negara berdaulat dari watak tragis yang menghantui sejarah mereka saat ini.[9]

Hmm. Iya, iya, Gus.

Di Indonesia sekarang lagi musim apa?

Lagi musim pilpres, Gus. Orang-orangnya pada lucu. Nah, kalau Gus Dur milih siapa?

Mahfud MD.

Ha ha ha. Pak Mahfud gak jadi nyalon, Gus.

Iya tahu saya juga. Jangan dikira di surga gak ada tv.

Terus kenapa masih milih Mahfud kalau sudah tahu gak jadi nyalon?

Kan lagi ramai Gol-Fud, Golongan Mahfud.

Hahaha. Iya deh. Eh, Gus, udahan dulu ya, ini kami lagi dikejar deadline, harus cepat-cepat diunggah. Kasihan sahabat fibrator, nungguinnya kelamaan.

Iya, iya. Makanya pola kerjanya jangan pake mood seniman. Pakailah mood jurnalis, gak perlu yang bagus, tetapi istiqamah.

He he he. Besok-besok, insyaallah kami mampir lagi ke sini.

Iya. Salam sama Mang Ocha.

Hehehe. Iya. Doain kami ya, Gus.

Iya. Semangat ya!

Iya.***


[1] Antaranews.com, Gus Dur Tegaskan Bencana Alam Tak Berkaitan dengan Kepemimpinan Seseorang. Diakses tanggal 29 Desember 2018.

[2] Abdurrahman Wahid, Tuhan Tidak Perlu Dibela (Yogyakarta: Saufa, 2016), 12-13.

[3] Ibid.

[4] Greg Barton, Biografi Gus Dur (Yogyakarta: Mahabbah, 2017), 324.

[5] Ibid., 233.

[6] Wawancara Tv One bersama Gus Dur sekitar tahun 2008.

[7] Abdurrahman Wahid, Tuhan Tidak Perlu Dibela (Yogyakarta: Saufa, 2016), 67-68.

[8] Ibid., 233.

[9] Ibid., 233-234.