A password will be e-mailed to you.

Membaca buku puisi saat ini seperti usaha bunuh diri
Berkali-kali dengan api. Rambutku berkobar dan mataku terasa pedih
Api menjalar ke mana-mana…

Aku di sini, di antara larik-larik puisi, mengingatmu setiap hari.
Di antara deru angin panas yang menyebarkan berita buruk.
Hewan liar berbondong turun ke kampung meninggalkan gunung
Yang meruncing warna marah. Kebun pisang, kebun singkong,
Dan sawah-sawah bangkar menyebarkan asap. Hantu-hantu lapar
Dan kawanan babi berkeliaran setiap malam. Seorang ibu hamil
Disiksa seorang pemuda sampai mati di kampungku suatu malam

Memahami diksi-diksi para penyair seperti usaha melarikan diri
Dari letupan-letupan dunia ke dalam sebuah goa purba, tempat segala
Percikan suara penderitaan manusia tersimpan. Aku mencari-cari pistol
Lalu menyembunyikannya di jok motor. Aku membeli seekor anjing ras
Bermata saga dan membiarkannya terus menyalak, menyemburkan bensin
Di dalam dada. Menemaniku membaca kemudian menulis puisi cinta

Tiba-tiba sadar rumahku telah hangus terbakar. Hanya menyisakan
Beberapa buku puisi dan tumpukan arang yang terus mengepul
Aku membaca halaman-halaman puisi penuh jelaga itu, menafsirkanmu
Di jalan, di kebun, di rumah kontrakan, di antara pusaran-pusaran api
Aku ingin menulis puisi, aku ingin mencintaimu sampai mati

Setiap hari tubuhku menggigil karena bara keinginanku sendiri

2018