A password will be e-mailed to you.

Paris, di sebuah persimpangan jalan menuju tempat pertemuan para anarkis muda. Sambil menghisap sebatang lisong, ia berjalan pelan dengan mantelnya yang cukup besar. Tak ambil keputusan lama akhirnya saya menghampiri beliau. Albert Camus, idola anak muda pemuja whisky.

Singkat  cerita dia menerima ajakanku untuk mengobrol sebentar, sambil tetap menghisap rokok ia menanyakan nama dan asal negara saya. Sesekali ia tertawa mendengar cerita perjumpaanku dengan Jimi Hendrix, Jim Morrison dan Janis Joplin yang mati muda. “Krisis batin itu hampir selalu tidak dapat dikendalikan,“ katanya sambil terkekeh menghisap rokok.

Dengan materi wawancara seadanya saya langsung menanyakan sesuatu yang teramat basa-basi.

Berikut adalah obrolan kami.

***

Apa yang membuatmu tertarik dengan eksistensialisme?

Aku bukan seorang eksistensialis!

Setidaknya banyak orang yang menganggapmu seorang eksistensialis.

Oke, saya akan jelaskan sedikit. Setidaknya apa yang dibicarakan dalam buku saya memang bagian dari eksistensialisme.  Eksistensialisme menawarkan minat yang menggebu-gebu untuk selalu mempertanyakan persoalan hidup manusia. Karena aku rasa  kehidupan adalah hal yang sementara  dan absurd. Di lain sisi dari masa depan manusia yang sementara itu adalah mendekatkan diri dengan kematian. Maka aku harus menjaga gairah itu agar terus hidup. Gairah untuk selalu mempertanyakan banyak hal sebelum mati. Persoalan keberadaan ataupun ketiadaan. Yang abadi adalah pikiran tentang untuk apa sebenarnya kita hidup. Dan aku selalu mempertanyakan itu.

Tapi yang abadi adalah hidung Dian Sastro.

Itu hanya mitos dalam lirik lagunya si Jeje. Anak ingusan, kemarin sore.

Kamu kenal Jason Ranti?

Kenal. Dia cukup baik dalam menjalani  hidupnya yang absurd. Kalau ada waktu saya ingin membuat esai panjang berjudul Meet Jejeboy

Bagus.. bagus… bagus… Tapi kenapa absurd?

Ya, absurd!

Kenapa kamu tertarik dengan absurdisme? Karyamu begitu kental dengan hal-hal yang absurd.

Yang menarik perhatian saya bukanlah penemuan absurd itu sendiri, melainkan akibat-akibatnya.

Misalnya?

Jika kita merasa yakin akan kenyataan-kenyataan itu, kesimpulan apakah yang harus ditarik, sampai di mana harus tahu agar tidak perlu mempelajari apa-apa?

Oke, bagaimana kamu menyederhanakan persepsimu itu? Aku sedikit bingung, Bung!

Yang absurd lahir dari konfrontasi antara panggilan manusiawi dan kebisuan dunia yang tak masuk akal. Mempelajari batas-batas sampai jauh, sampai kita tidak lagi bertanya tentang batas itu sendiri.

Maksudnya “tidak masuk akal”?

Tidakkah kamu tertarik untuk bunuh diri?

Astagfirulloh. Tobat, Bung! Bunuh diri adalah perbuatan yang tidak disukai Tuhan.

…………… (membakar lagi rokok)

Apakah kamu berpikir bahwa konsep ketuhanan adalah hal yang tak masuk akal? Absurd? Istigfar, Bung!

Nalar konyol inilah yang mempertentangkan diri saya dengan semua ciptaan. Saya tidak dapat menyangkal nalar hanya  dengan sebaris tulisan. Yang saya kira benar harus saya pertahankan. Yang tampak begitu jelas, meskipun berlawanan dengan diri saya, harus saya dukung.

Apakah Tuhan itu jelas?        

Jelas, saya menghidupkannya dalam hati.

Tidak harus pakai pengeras suara?

Saya tidak seperti orang-orang di negaramu. Meributkan keyakinan hanya dalam cara meyakini keberadaan Tuhan. Ini bukan tentang ada atau tidaknya keberadaan Tuhan, tetapi sejauh mana nalar dan hati kita membawanya ke sana.

Apakah kamu bisa menjelaskan bagaimana hati manusia bekerja?

Hati yang merupakan milik saya pun untuk selamanya tetap tak dapat saya definiskan.

Bagaimana akhirnya?

Untuk selamanya saya akan selalu asing terhadap diri saya.

Semua orang setidaknya pernah  merasa asing dengan dirinya sendiri

Itulah kenapa akhirnya absurdisme adalah juga bagian dari ilmu pengetahuan. Serumit atau se-absurd apapun hidup pasti ada pangkal persoalannya, dan keberadaanku adalah untuk memecahkan semua itu.

Bukankah ini seperti bom waktu? Semakin kamu sadar atas keberadaanmu semakin besar potensimu untuk melakukan bunuh diri?

Semua pengalaman itu berkesesuaian dan bersilangan. Begitu sampai pada batas, nalar harus membuat penilaian dan memilih kesimpulan. Di situlah letaknya bunuh diri dan jawabannnya

Apakah kamu sudah sampai pada batas itu?

Ya, tapi saya tak sampai waktu melakukan bunuh diri. Sementara yang lain menghadapi kegelisahan atas eksistensinya dengan melarikan diri kepada agama ataupun ideologi–seperti sahabat saya Jean Paul Sartre. Tapi saya lebih memilih untuk berontak. Menghadapi semua ketakutan-ketakutan yang telah diciptakan oleh kondisi dan pikiran saya sendiri. Saya menawarkan solusi untuk melakukan pemberontakan atas hidup. Atas segala sesuatu pikian yang mapan di dalam masyarakat.

Bagaimana pemberontakan terjadi?

Pemberontakan tak akan ada atau terjadi tanpa ada perasaan (feeling), bahwa entah di mana dan entah bagaimana, seseorang itu merasa benar.

Dan itulah alasan kenapa kamu habis-habisan mempertahankan kebenaranmu itu?

Kenapa memberontak bila tak ada suatu apapun yang tetap di dalam diri seseorang yang pantas untuk dipertahankan?

***

Bung, betapa mudahnya orang-orang di generasiku patah hati oleh perempuan.

Seandainya mencintai saja sudah cukup, segalanya akan terlalu mudah.

Lalu harus seperti apa?

Orang harus mencintai jarang-jarang untuk dapat mencintai sungguh-sungguh

Bagaimana persepsimu tentang cinta?

Mengenai cinta saya hanya mengetahui campuran antara hasrat, kelembutan, dan pikiran yang mengikat saya dengan  orang tertentu. Cinta yang dermawan adalah cinta yang sekaligus dapat mengetahui bahwa dirinya fana dan tunggal.

Itulah kenapa kamu kawin dua kali dan berhubungan gelap dengan banyak perempuan? Kamu seperti Don Yuan di dalam esaimu sendiri.

Manusia absurd adalah manusia yang tidak memisahkan diri dari waktu. Aku dan kisah Don Yuan sama-sama berada di wilayah absurd. Sama-sama melahap kesempatan hidup. Hasrat untuk mencintai akan terus hidup. Terkadang kita juga perlu berontak kepadanya.

*Karena terburu-buru menuju tempat  pertemuan, akhirnya Albert Camus menyudahi obrolan singkat di tepi jalan itu*

Bung, hari ini adalah hari kelahiranmu. Adakah yang perlu kamu sampaikan?

Seseorang yang akan tetap hidup adalah dia yang kesepian, dia yang unik, dia yang menjadi dirinya sendiri. Lebih baik mati di atas kaki sendiri ketimbang hidup di atas pangkuan orang lain.

Oke, Terimakasih bung!

Je t’en prie comrades…. Revolt!….. Revolt!…. Revolt!…. (sambil mengepalkan tangan kiri).