A password will be e-mailed to you.

Pendahuluan

Buku menjadi instrumen penting bagi proses peradaban manusia setelah sebelumnya ditemukannya teknik tulisan untuk mengkomunikasikan ide-ide dan penemuan-penemuan. Buku menegaskan kembali perbedaan fundamental antara manusia dan hewan: manusia bisa membaca serta menulis teks, sementara hewan tidak.

Tulisan ini disusun atas pertanyaan-pertanyaan ikhwal definisi buku, sejarah buku, dan eksistensi buku. Di satu sisi tampak hanya sebagai pertanyaan-pertanyaan sederhana dan klise, namun di sisi lain tampak sebagai pertanyaan-pertanyaan abadi dan tidak mudah dihindari sebab adanya perubahan cara berpikir manusia yang tidak henti-hentinya, perubahan ruang, dan perubahan zaman yang senantiasa menyodorkan pelbagai kemungkinan jawaban yang tidak terbatas.

Sejarah Buku

“Sejarah adalah sejenis gramofon besar yang di dalamnya suara-suara bangsa disimpan.” (Iqbal dalam Danusiri, 1996: 49)

Literatur yang membahas sejarah buku sangat beragam dengan mengusung bukti dan pembenarannya sendiri-sendiri. Ada yang menunjukkan korelasi dan ada juga yang sama sekali sulit dihubungkan. Akan tetapi catatan-catatan sejarah yang sering kali simpang siur itu menjadi daya pikat yang merangsang keingintahuan kita untuk tak henti-henti menelusurinya.

Menurut Frans Magnis-Suseno (2001: 15-16), buku pertama bangsa-bangsa Sumer, Babil, Asur, dan lain-lain di Timur Tengah terdiri atas papan dan tanah liat dengan huruf berbentuk baji. Di Indonesia dan India, sejak ribuan tahun silam dipakai daun lontar, di Cina dipakai papan tipis dari bambu atau kayu, kemudian juga sutra. Mesir menjadi pusat industri pembuatan papyrus dari serat perdu papyrus yang bisa digulung. Sekitar 300 tahun SM di Asia Kecil, tepatnya di wilayah Turki, ditemukan pergamen yang dibuat dari kulit kambing, domba atau sapi muda, yang di Eropa dipakai sampai abad ke-14. Abad ke-3 SM, penemuan bangsa Cina memberi kontribusi yang sangat signifikan dalam perkembangan buku selanjutnya, sebab mereka mampu menciptakan bahan buku ideal, dalam arti mudah dicetak, mudah diperbanyak, murah, mudah ditangani dan bertahan lama, yaitu kertas.

Pada awal perkembangannya, buku hanya dimiliki kelas masyarakat tertentu, seperti bangsawan, tabib, pendekar, rohaiawan, penyair, atau cendikiawan. Hal itu disebabkan karena buku masih mahal dan langka, membutuhkan proses panjang dalam pembuatannya, di mana penyalinan buku masih harus dilakukan dengan teknik tulis tangan, dan penyalinnya mesti menguasi teknik-teknik seni yang matang. Kepemilikannya mengidentifikasikan kasta atau status sosial yang membuat pemiliknya mendapat penghormatan khusus dari khalayak.

Produksi buku meningkat luar biasa setelah J. Gutenberg memperkenalkan teknik cetak pada abad ke-15 (Fuad Hasan, 2004: XIV). Revolusi ini melahirkan reproduksi mekanis yang mengundang rekasi keras antara pro dan kontra, karena di satu sisi memberi manfaat praktis, di sisi lain mengikis habis aura buku itu sendiri sebab tidak lagi dikerjakan oleh tangan ahli yang menguasai teknik-teknik seni. Namun pada perkembangannya, pro dan kontra itu dilupakan.

Buku mulai menjadi komoditi umum dan sejalan dengan itu makin kentara pengaruhnya sebagai sarana informatif dan edukatif. Makin banyak ragam pengetahuan yang beredar melalui buku. Makin laju pula proses pencerdasan dan pencerahan yang terjadi pada warga masyarakat yang bersangkutan (Fuad Hasan, 2004: XV).

Dengan atau tanpa aura, dunia perbukuan sesudah Gutenberg terus berkembang. Cetak ofset listrik meningkatkan kualitas percetakan buku-buku, dan sekaligus membuat kuantitas semakin tak terbatas. Teleprinting menghilangkan masalah jarak dan transportasi, dan sejumlah software komputer membuat perancangan desain buku semakin canggih. Tetapi revolusi digital abad ke-20 membuka babak baru dalam dunia reproduksi buku. Kini, di zaman gunting-tempel ala Microsoft Word, zaman reproduksi mekanis Gutenberg diperkirakan akan segera berakhir (Melani Budianta, 2004: 151-152).

Materi buku tidak bisa lagi dipercaya (sepenuhnya) sebagai karya penulisnya, setelah banyak ditemukan kasus-kasus penjiplakan, peniruan, dan pelanggaran hak cipta. Namun yang sebetulnya sangat mengancam bukan dari perkembangan dunia digital, melainkan datang dari manusia yang mulai kehilangan daya baca dan tidak memiliki kecintaan atas buku.

Eksistensi Buku: Manusia Yang Dibukukan

Realitas di dalam buku tidak lepas dari eksistensi manusia yang menulis dan yang membacanya, bahkan mempengaruhi manusia yang tidak bersentuhan sama sekali. Menurut Frans Magnis-Suseno (2001:15), ditemukannya buku menjadi langkah penting dalam perkembangan cara manusia berpikir, khususnya dalam cara ia memahami dirinya sendiri dan dalam proses memaknai realitas seluruhnya. Immanuel Kant telah membuktikan eksistensi buku bagi eksistensi dirinya sendiri. Sepanjang hayat Kant tidak pernah keluar dari batas-batas kota tempat tinggalnya, namun ketajaman pikirannya sebagai filsuf sanggup menembus batas-batas negara dan benua, juga batas-batas zaman melalui perantara buku.

Singapura adalah contoh negara yang sadar akan pentingnya buku. Negaranya dijadikan sebagai pusat perbukuan di seluruh Asia Tenggara, bahkan di negara kepulauan di Samudra Pasifik Barat, sehingga diambil langkah strategis untuk membebaskan pajak perbukuan, mengundang para penerbit dan toko buku dunia agar membuka cabang di negara pulau itu, menggelar pameran buku tahunan yang menyaingi Frankfurt Book Fair untuk wilayah Asia Tenggara dan Timur dan lain-lain (Ajip Rosidi 2004:18). Pemerintah Singapura tahu secara pasti bahwa setiap negara yang ingin maju niscaya memerlukan banyak buku. Memang, sekarang ada komputer dan alat-alat elektronik yang canggih, tetapi belum ada yang dapat menggantikan peranan buku (Ajip Rosidi, 2004:19).

Buku dan Kekuasaan

“Asia… tempat membaca yang tak boleh dibaca, tempat menulis yang tak boleh ditulis.” (Asia Membaca karya Afrizal Malna, 2010: 267)

Pada abad ke-20 banyak terjadi pembakaran buku yang dianggap membahayakan. Seseorang bisa dipenjara atas kepemilikan sejumlah buku. Bahkan fatwa mati bisa dikeluarkan karena sebuah buku (Melani Budianta, 2004: 150). Salah satu contoh tragedi di Indonesia adalah ketika Orde Baru berkuasa. Rezim itu memberangus buku-buku yang bertolak-belakang dengan pandangan politiknya, seperti pemberangusan terhadap karya-karya Pramoedya Ananta Toer.

Tanggal 13 Oktober 1981 kantor Kejaksaan Agung RI mengaku “hanya” membakar 972 eksemplar novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa karya Pramoedya, dan menyangkal tuduhan bahwa jumlah yang dibakar sudah mencapai 10.000 eksemplar (Ariel Heryanto, 1981: 14). Alasan pemberangusan itu tiada lain adalah karena takut kehilangan kekuasaan.

Namun pada akhirnya, Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun itu tumbang sementara karya-karya Pramoedya menjadi sangat terkenal dan dibaca oleh masyarakat dunia, bahkan beberapa kali pernah terpilih sebagai kandidat pemenang Nobel, hadiah sastra tertinggi di dunia.

Jauh sebelum Orde Baru berkuasa, bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa Belanda yang membuat penerbitan Commissie voor de Volkslecture (1908) dan kemudian berubah nama jadi Balai Pustaka (1917). Tugas penerbitan ini adalah memproduksi bacaan populer yang tidak mencerdaskan, bacaan ringan guna mengalihkan perhatian masyarakat dan mengikis kesadaran kritis, juga bacaan-bacaan yang bermuatan ideologi anti nasionalisme untuk bandingan bagi buku-buku nasionalisme. Belanda tidak melakukan pemberangusan atas buku-buku yang dikatakannya sebagai “bacaan liar”, namun berusaha menguasai dan mengontrol peredaran buku.

Kejahatan pemerintah Belanda lainnya adalah dalam pembredelan identitas. Banyak sekali dokumentasi khazanah pemikiran Indonesia yang diangkut ke negaranya. Mengangkut khazanah kepustakaan berarti mengangkut pemikiran atau bangsa lain (Budi Darma, 2004: 72), sehingga generasi berikutnya kehilangan akar identitas dan mudah dikuasai. Hal demikian adalah bagian dari politik kebudayaan khas Barat yang juga dilakukan Napoleon ketika menyerbu Mesir.

Muselmann dan Buku

Muselmann dalam bahasa Jerman berarti muslim, yang tidak selamanya mengandung citra baik. Ada sebuah nyanyian anak-anak di negara itu yang menunjukan sudut pandang mereka:

K-a-f-f-e-e
K-a-f-f-e-e,
trink nicht so viel kaffee!
Nicht für Kinder ist der türkentrank
schwächt die Nerven, macht dich blaß lassen und krank.
Sei doch kein Muselmann,
der ihn nicht lassen kann!

(Kopi Kopi
Jangan minum banyak kopi!
Bukan untuk anak-anak, ini minuman Turki
bikin syaraf lemah, bikin sakit dan pucat pasi.
Jangan jadi Muslim,
kamu nanti tak sanggup apa-apa!)

Nyanyian dari tahun 1930-an ini mengindikasikan persepsi sebagian besar orang Eropa terhadap orang Islam yang dianggap tak sanggup apa-apa, dalam arti tidak berguna, tidak berfungsi sebagaimana seharusnya manusia.

Primo Levi, sastrawan sekaligus jurnalis Italia keturunan Yahudi menulis sebuah novel Bertahan Sepuluh Hari Di Auschwitz, setelah ia terbebas dari belenggu penjara Auschwitz, Polandia. Dalam karyanya itu, kita dapat menelusuri realitas orang-orang di dalam terali besi. Orang-orang yang terbantai akan disebut muselmanner meski agamanya bukan Islam, atau sama sekali tidak percaya pada agama (atheis). Muslim pada gilirannya diartikan sebagai manusia lemah.

“Orang-orang yang tenggelam…massa yang tanpa nama…makhluk-bukan-manusia yang berjalan dan bekerja dalam bisu…”. Orang ragu untuk menyebut mereka hidup, juga ragu untuk menyebut kematian mereka “kematian”. Mereka terlalu lelah untuk mengerti apa arti mati. Bahwa di kamp tahanan itu orang-orang Yahudi yang sudah remuk akan disebut “Muselmann” menunjukkan citra macam apa yang ada di Jerman tentang umat Islam waktu itu: manusia yang tak berguna lagi, mirip sampah, orang-orang yang sebenarnya terasing dari hidup… (Goenawan Mohamad, 2013).

Persepsi bangsa Eropa yang didokumentasikan mulai dari nyanyian anak-anak hingga novel, sangat masuk akal jika kita menengok dunia intelektual Islam. Hanya sedikit atau hampir tidak ada intelektual Islam yang diperhitungkan. Menurut Budi Darma (2004: 71) kemunduran Islam di dunia pemikiran (bukan sebagai agama), salah satunya terjadi karena perang di abad ketiga belas, di mana banyak buku para pemikir Islam yang dilemparkan ke Sungai Euphrat, dan karena itu, airnya menjadi hitam pekat oleh tinta sekian banyak buku. Generasi Islam berikutnya kehilangan akar pemikiran, kehilangan rasa percaya diri, teralienasi dari buku-buku primer dunia. Adapun literatur Islam yang masih tersisa, yang berakar dari para sufi Persia dan Arab, pada era globalisasi sudah teralienasi. Globalisasi adalah politik kebudayaan yang berhasil mengukuhkan kemapanan sistem pendidikannya melalui dogma “standar internasional”, yang segalanya berkiblat ke Barat. Buku-buku sumber yang mesti dikuasai para sarjana adalah karya pemikir Prancis, Inggris, Amerika, Yunani atau Jerman.

Dengan demikian, muselmann pada era globalisasi dapat didefinisikan sebagai manusia-manusia krisis identitas: tidak mengenal akar pikiran para pendahulunya. Muselmann bukan lagi manusia yang terbantai secara fisik di kamp konsentrasi Hitler, tetapi mereka yang terbantai secara ideologi di perpustakaan, di bangku akademik, bahkan di kamar-kamar kost. Muselmann adalah kutu buku yang merasa pintar namun tercerabut dari akar pemikiran bangsanya sendiri.

Penutup

Buku sering kali gagal didefinisikan karena perubahan formulasi bentuk dan sudut pandang pembacaan. Satu kali waktu dianggap mengidentifikasikan profesi pemiliknya, di lain waktu dianggap komoditi umum, alat perlawanan pada rezim kekuasaan, materi yang bersifat ideologis dan dogmatis, bahkan dianggap kompas bagi peristiwa-peristiwa besar.

Namun dari seluruh perubahan-perubahan itu, bisa ditarik benang merah bahwa buku tidak pernah kehilangan dirinya. Manusia dipandang tidak akan bisa hidup secara utuh tanpa buku, terutama dalam proses membaca pikirannya sendiri dan dalam proses memahami lingkungan sekitar. Sebuah bangsa akan sangat mudah dijajah bilamana abai terhadap buku-buku yang diwariskan bangsanya sendiri, demikian juga bila terjadi fanatisme berlebihan dan menolak khazanah pustaka bangsa lain. Masyarakat pembaca dewasa ini dituntut memiliki kesadaran ekstra setiap kali berhadapan dengan buku, mesti bertanya: Apa realitas sebenarnya di balik buku itu?


Daftar Pustaka

  1. Budianta, Melani. 2004. Bukuku Kakiku (Bunga Rampai). Jakarta: Gramedia.
  2. Danusiri. 1996. Epistemologi Dalam Tasawuf Iqbal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  3. Darma, Budi. 2004. Bukuku Kakiku (Bunga Rampai). Jakarta: Gramedia.
  4. Downs, Robert B. 2001. Buku-Buku Pengubah Sejarah. Yogyakarta: Tarawang Press.
  5. Hasan, Fuad. 2004. Bukuku Kakiku (Bunga Rampai). Jakarta: Gramedia.
  6. Heryanto, Ariel. 1981. 2000 Judul Buku Dibredel. Tempo, 14 November 1981.
  7. Iqbal, Muhammad. 1992. Metafisika Iqbal (Disertasi). Bandung: Mizan.
  8. Malna, Afrizal. 2010. Pada Bantal Berasap. Yogyakarta: Omahsore.
  9. Mohamad, Goenawan. 2013. Muselmann, (Online), (http://goenawanmohamad.com/2013/06/03/muselmann/, diakses 17 Oktober 2013).
  10. Rosidi, Ajip. 2004. Bukuku Kakiku (Bunga Rampai). Jakarta: Gramedia.
  11. Suseno, Frans Magnis. 2001. Buku Membangun Kualitas Bangsa (Bunga Rampai). Yogyakarta: Kanisius.