A password will be e-mailed to you.

Perempuan itu selalu dibuat sange jika tiba-tiba teringat mantan kekasihnya. Perempuan cantik yang selalu merasa kesepian dan butuh pelukan.

Sejak dulu, sejak ditinggal kekasihnya, Wina sudah beberapa kali mencoba bunuh diri. Mulai dari gantung diri, loncat dari lantai dua rumahnya, minum racun, sampai merebahkan dirinya dengan pasrah di rel kereta, upaya-upayanya selalu gagal. Wina tetap hidup. Hebatnya lagi ia tetap baik-baik saja tanpa cacat sedikit pun.

Saat gantung diri, misalnya, entah mengapa ranting pohon yang terbilang besar itu bisa patah. Jika menggunakan logika matematika, beban tubuh Wina tidak mampu membuatnya patah. Saat mencoba loncat dari lantai dua rumahnya, Rendi tentangga Wina, orang yang sangat menyukai Wina berhasil menariknya dari belakang dan menyelamatkan Wina. Orang-orang langsung memegangi Wina dan membujuknya agar jangan coba-coba melakukan hal konyol itu. Ibunya apalagi, dia sambil menangis tapi tidak histeris. Sedang Rendi justru harus terjatuh ke halaman rumah sesaat setelah berhasil menyelamatkan Wina. Celakanya Rendi tidak mati, dia patah enam tulang rusuk, dan geger otak sampai hilang ingatan. Sungguh, merasa lelah dikejar-kejar Rendi yang cinta mati kepadanya, mendengar kabar duka itu Wina justru senang. Dia gak bakal kenal aku lagi, yes! Batinnya.

Wina pergi ke minimarket, membeli obat nyamuk. Lalu hendak meminumnya di gang sepi dekat rumahnya. Tapi sial bagi Wina, ia tetap ketahuan orang. Dia adalah kasir minimarket yang mengejar Wina karena lupa membawa kembalian. Dan, berhasillah Wina diselamatkan. Orang baik selalu mengesalkan, keluh Wina.

Tuuut! Tuuut! Tuuut! Suara klakson kereta dari kejauhan terdengar. Wina tidak bergeming. Ia tetap merebahkan dirinya di rel kereta. Ia melihat langit malam itu yang tanpa bintang. Pada ujung matanya, cahaya menghampiri, makin lama makin terang dan lambat laun memenuhi bola matanya. Cahaya surga! Wina begitu percaya diri. Maka ia menengok ke kiri, ke arah kereta datang. Tepat di depan wajahnya, ia melihat seekor tikus besar sedang mengendus-endus rambut Wina. Sial, Wina lari kocar-kacir. Ia sangat takut oleh tikus. Baginya tikus lebih menakutkan dari malaikat maut. Wina gagal bunuh diri lagi.

***

Tok-tok. Pintu kamarnya ada yang mengetuk. Wina tidak menghiraukannya. Sudah sepuluh tahun seingat Wina, sejak berakhirnya hubungan Wina dengan si mantannya itu, dia tidak mau keluar kamar. Dari bawah pintunya ada lubang kecil untuk ibunya memberikan makan. Biasanya Wina makan dua hari sekali. Dia tidak mogok makan. Dia cuman tidak mau keluar kamar. Terlalu banyak kenangan di rumah itu yang sudah ia lewati bersama mantan kekasihnya. Apalagi ruang tamu dan ruang teve.

Atas nama cinta. Andri kekasih Wina mencium keningnya. Wina senang bukan kepalang. Kejadian itu terjadi begitu saja. Di ruang tamu rumah Wina, sore hari sepulang sekolah.

“Aku sayang kamu, Win,” bisik Andri.

Wina tidak terlalu mendengarkan kata-kata Andri, bulukuduk Wina berdiri karena nafas Andri masuk ke lubang telinganya yang bersih terawat. Sekonyong, hendak membalas bisikan Andri dengan bisikan lagi, Andri justru tidak mengubah posisi kepalanya sama sekali. Sehingga bertemulah bibir mereka. Hampir menempel satu sama lain. Hampir! Reflek, Wina memundurkan kepalanya, tapi terhalang tangan Andri yang sudah bisa memprediksi gerakan Wina dan langsung mengantisipasinya.

“Kamu gak sayang sama aku, Win?” mata Andri terlihat sangat kecewa. “Kalau sayang cium aku,” Wina merasa canggung. Ia belum pernah ciuman sebelumnya. Setiap kali melihat ayah dan ibunya nonton film dan ada adegan ciuman di sana, kalau tidak dipercepat ya mata Wina ditutup oleh ayahnya. Padahal dia tidak sedang memerhatikan televisi.

“Cium aku, Win,” Andri memohon. Wina tidak bisa memulainya. Padahal Wina ingin. Andri, kamu yang mulai, dong! Paksa Wina dalam hati sambil menutup mata.

Dan, hari itu berlalu dengan pertengkaran. Wina yang ingin mencium Andri tidak bisa melakukannya. Andri yang ingin dicium tidak juga mengawalinya. Andri marah besar. Wina galau setengah mati. Chat-nya tidak dibalas. Telfonnya tidak diangkat. Sedangkan di media sosial ia melihat Andri mengunggah sesuatu lima menit yang lalu. Andri cengengesan bersama kawan-kawannya.

***

Tok-tok. Wina tidak bergeming. Ia tetap pada posisinya. Tok-tok. Posisinya? Jika tidak makan, minum, atau ke kamar mandi, posisinya selalu sama. Tidak pernah berubah. Tubuhnya telentang, dengan ke dua tangannya dilipat di atas perut. Layaknya orang mati. Bola matanya terpejam dan ditutupi timun segar setiap hari. Jika timun itu sudah tak lagi segar, maka ia akan memakan timun itu.

***

“Aku tidak mau makan jika tidak dengan timun, mama!” teriak Wina saat pertama kali mengurung dirinya dan sempat mogok makan.

Lalu Mama mengganti menu makanan yang sudah disiapkan sebelumnya. Dimasukanlah melalui lubang kecil di bawah pintu, sebuah piring dengan mentimun di atasnya.

“Cuman timun, Mama?” Wina marah. “Maksudku nasi, ayam, sambal, dan mentimun. Bukan cuman timun saja!”

***

“Apa pendapatmu tentang kemaluanku?” tanya Andri.

Wina tidak menjawab. Ia sibuk mengulum kemaluan Andri dengan penuh gairah. Sesekali menjilatinya. Matanya terpejam, namun pada saat Andri mendesah agak panjang dan keras barulah mata Wina melirik wajah Andri. Matanya tajam menusuk. Di bawahnya adalah kedua tangannya yang sedang memegangi gumpalan daging yang keras sambil bergerak naik turun.

Semua itu terjadi di ruang tamu rumah Wina. Sepulang sekolah. Rumah Wina selalu sepi. Bapaknya supir bis pariwisata sedangkan ibunya pemandu wisatanya. Mereka dipertemukan di tempat kerja dan akhirnya menikah. Perusahaan mereka adalah perusahaan travell yang banyak mendapat orderan. Jadi dapat dipastikan hampir setiap hari Wina sendirian di rumahnya. Wina sempat merasa kesepian, tentu saja perasaan itu muncul ketika belum bertemu dengan Andri. Sekarang beda soal. Jika orangtua Wina pulang, barang tentu Wina sangat kecewa.

“Malem ini kamu jadi nginep di sini kan?” tanya Wina sambil mengelapi kemaluan Andri yang dipenuhi pejuh dengan tisu. Andri tidak menjawab. Wajahnya terlihat sangat kelelahan.

“Jadi kan, sayang?” Wina menagih sekali lagi.

“Sebetulnya, Win, nenek aku lagi sakit dan aku harus bergegas ke Rumah Sakit untuk menjaganya,” jawab Andri penuh sesal.

Selama mereka berhubungan, ketika Wina selalu sendirian berhari-hari di rumah, Andri tidak pernah menginap di sana karena macam-macam alasan. Dan, Wina selalu memakluminya. Itulah mengapa hubungan mereka selalu berakhir di ruang tamu atau ruang tv.

“Eh, win, kamu belum pernah jawab pendapat kamu tentang kemaluanku,” sekarang Andri yang menagih.

“Aku suka. Seperti mentimun besar. Di dalamnya ada banyak cairan yang ingin segera  keluar. Sama-sama segar.” Wina menjawab malu-malu. Mereka terangsang. Dan lanjut bercinta.

“Kalau beigtu, aku keluarkan di mulutmu, ya, bukankah kau suka mentimun?” bisik Andri. Wina mengangguk. Dan Andri benar-benar pulang setelah membuat mulut Wina dipenuhi pejuh.

***

Tok-tok. Tok-tok. Wina mengangkat mentimun yang tergeletak pada matanya lalu memakannya. Kali ini ia duduk. Menyenderkan punggungnya pada dipan dan bernyanyi. Sisa potongan mentimun ia gunakan layaknya alat pengeras suara. Sesekali justru dikulumnya.

Tok-tok-tok. Tok-tok-tok. Kali ini pintu diketuk tiga kali dan lebih kencang dari biasanya. Wina kaget. Ini bukan mama, bukan papa, bukan orang-orang yang biasa.

 ***

“Wina anak mama yang mama sayangi melebihi apapun bahkan melebihi mama sendiri dengar mama baik-baik wina wina kalau mama dan papa sedang bekerja para tetangga akan memberi wina makan mereka akan mengetuk pintu sebanyak duakali wina wina gausah khawatir terima saja makanan itu dan mereka pun sudah tau menu makanan yang wina mau wina,” tanpa jeda, tanpa ekspresi, mama menjelaskan. Sambil menangis tapi terlihat tidak menangis. Begitulah mama. Wina sangat mengerti maksudnya.

“Semangat, Nak!” papa mengakhiri dengan satu kalimat pendek namun sangat ekspresif.

***

Tok-tok-tok. Tok-tok-tok.

Siapa ini? Wina panik bukan kepalang. Sudah sepuluh tahun seingat Wina dan baru kali ini pintu diketuk dengan cara yang aneh bagi Wina.

***

Malam itu, Andri mendadak ke rumah Wina. Tok-tok. Tok-tok. Wina yang sedang masturbasi sambil menutup matanya dengan irisan mentimun tidak mendengar suara ketukan pintu Andri. Ia terlihat begitu khusyu. Tangan kirinya memainkan putting payudaranya dan tangan kanan memegang belahan mentimun panjang dan besar yang dikeluar-masukkan ke dalam vaginanya. Dia mendesah-desah kecil. Pikirannya berada di waktu yang lain tapi tempat yang sama. Saat pertama Andri memasukan batang kelaminnya ke dalam vagina Wina.

***

“Gak bakal apa-apa kok, Win. Percaya, deh,” Andri membujuk sambil menggesek-gesekan kelaminnya di dinding kemaluan Wina.

“Yakin?” Wina butuh kepastian.

“Kalau kamu sayang aku, percaya sama aku, Win,” Andri terlihat sangat yakin.

Dengan mengangkangkan kedua kakinya di hadapan Andri, berarti Wina memercayai Andri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Andri siap-siap menusuknya, merobeknya.

“Tunggu! Yakinkan aku, Sayang, kalau ini tidak sekadar akan baik-baik saja,” sela Wina. “Apakah ini enak?” tanya Wina.

“Nikmat!” Andri menjawab dengan tenang. Dan, rubuhlah pertahanan Wina.

Hampir setiap hari, setiap tidak ada siapapun di rumah Wina kecuali mereka berdua, Andri dan Wina seperti marmot yang sedang berkembang biak. Bisa dua atau tiga kali mereka berhubungan seks dalam beberapa jam. Dan, selalu diakhiri “aku gak bisa nginep, Win, ibuku sendirian di rumah,” Andri pamit.

Sudah satu bulan Andri tidak ada kabar. Di media sosialnya pun tidak ada aktifitas. Wina kangen. Dan sange. Mereka tidak pernah berjumpa di tempat lain selain di rumah Wina. Wina tidak tau rumah Andri. Jelas Wina merasa kesal. Tidak ada satupun kontak yang bisa dihubungi. Di facebooknya pun – tempat mereka bertemu- Andri menghilang.

Esoknya Wina benar-benar putus asa. Dan pertamakalinya Wina merencakan bunuh diri. Dan, gagal. Dan selalu gagal. Terakhir ia lari kocar-kacir menuju rumahnya. Ia baru saja dikagetkan dengan sosok tikus yang ada tepat di depan wajahnya. Ia masuk ke dalam rumahnya dengan pundak naik turun karena kelelahan. Kurang ajar! Aku ingin mati ya Tuhan. Sungguh aku tidak bisa menahan nafsu birahiku ini. Si Andri sialan itu tidak juga mengunjungiku. Aku ingin mati! Wina mengutuk dalam hati. Ia ke dapur mengambil gelas dan menuangkan air mineral dari galon. Duduk di meja makan dan lalu meminumnya. Meja makan yang berantakan. Wina jijik melihatnya. Ia membersihkan meja itu. Dan sampailah pandangan Wina pada mentimun segar dan besar. Pikirannya langsung teringat pada Andri. Pada kemaluan Andri.

Ia mengambilnya, dan memotong ujungnya tipis-tipis. Sebagian di buang sebagian ia pakai untuk menutup matanya. Dan potongan yang lebih panjang dan besar ia anggap sebagai penis Andri.

***

Malam itu, Andri mendadak ke rumah Wina. Tok-tok. Tok-tok. Wina yang sedang masturbasi sambil menutup matanya dengan irisan mentimun tidak mendengar suara ketukan pintu Andri. Ia terlihat begitu khusyu. Tangan kirinya memainkan puting payudaranya dan tangan kanan memegang belahan mentimun panjang dan besar yang dikeluar-masukkan ke dalam vaginanya. Dia mendesah-desah kecil. Pikirannya berada di waktu yang lain tapi tempat yang sama. Saat pertama Andri memasukan batang kelaminnya ke dalam vagina Wina.

Ini jauh lebih enak dari punya Andri. Jauh lebih nikmat. Wina begitu berbahagia. Clack. Pintu rumah terbuka. Andri masuk. Dan menguncinya dari dalam. Andri berpikir Wina sangat ceroboh. Mendengar suara pintu dikunci, Wina baru menyadari ada seseorang. Ia bergegas lari ke kamarnya dan melupakan celananya tergeletak di ruang makan.

“Win, Wina!” Andri berteriak mencari Wina.

Tok-tok. Andri mengetuk setiap pintu ruangan itu. Sampai pada satu pintu, di mana itu adalah kamar Wina, Wina menyadari kalau itu suara Andri. Tok-tok.

“Win, kamu di dalem, kan? Ini aku, Win,” Andri sedikit berteriak.

Ya, itu Andri. Wina yakin. Lalu Wina membuka pintunya.

Ternyata Wina juga merindukan wajah Andri yang maskulin. Melihat wajahnya Wina tak sanggup menahan kangen. Ia peluk Andri. Ia ciumi Andri. Andri membalas semua itu sambil menjelaskan ke mana ia selama ini.

“Nenekku meninggal, Win,” jelas Andri. Wina memerhatikannya dengan seksama. “Ibuku dirawat karena jantungnya lemah. Bapakku entah di mana, ia dikejar-kejar rentenir sejak dua bulan lalu,” Andri menceritakan kebenaran. Wina percaya dan menenangkannya. Ia tak ingin bertanya kenapa Andri tidak menghubunginya. Ia sangat mengerti apa yang sedang Andri rasakan. Maka Wina memeluknya dengan hangat. Menciumi lehernya. Menjilati telinga Andri. Ini pertama kalinya Andri ke kamar Wina. Mereka kembali berubah menjadi sepasang marmot yang sudah lama tak berjumpa. Ini pertama kalinya mereka bercinta di kamar – di kasur empuk – milik Wina.

***

Tok-tok-tok. Wina panik benar-benar panik. Ie berdiri. Duduk. Berdiri. Duduk. Mondar-mandir tidak karuan. Itu bukan suara ketukan pintu Andri. Bukan juga suara ketukan pintu mama atau para tetangga seperti selama ini. Wina gelisah. Keringat kecil dan dingin mulai bercucuran dari dahi sampai selangkangannya. Mentimun yang masih saja ia pegang kini ia makan dengan lahap.

***

“Anjing!” Wina mengumpat.

“Kenapa, Win?” Andri dibuat kaget.

“Ini benar-benar tidak terasa nikmat. Batang penismu! Batang penismu!”

“Kenapa dengan penisku?” Andri kaget. Dan, bingung sekaligus.

“Tidak jauh lebih baik dari mentimun di meja makan! Tidak lebih nikmat!” Wina mencaci Andri. Ia lari keluar kamar menuju dapur. Membawa pisau dan banyak mentimun. Dan kembali ke kamarnya. Andri yang sedang kebingungan sambil merebahkan badannya tiba-tiba dikagetkan oleh cengkraman keras di kelaminnya yang mulai lembek. Lalu seketika berteriak kencang sekali. Andri membuka matanya sambil kesakitan dan melihat darah berlumuran dari selangkangannya. Wina mengiris kelamin Andri sampai habis. Tak tersisa. Andri kejang-kejang. Ia tak bisa menahan rasa sakitnya terlalu lama. Andri melirik seluruh ruangan kamar Wina. Dan di pojok ruangan, di atas kursi, Wina terlihat sedang mengunyah sesuatu. Mulut dan tangannya dilumuri darah menjadi pandangan terakhir Andri di kehidupannya.

***

Tok-tok. Wina mengetuk pintu kamarnya sendiri dari dalam. Lalu ia kembali ke posisinya seperti biasa.

Sudah seminggu sejak Wina membunuh Andri, Wina tak lagi berhasrat untuk masturbasi sambil menatap wajah Andri yang pucat pasi. Bagaimanapun, Wina memang lebih menikmati masturbasinya bersama mentimun tapi ia tetap membutuhkan wajah Andri yang maskulin. Wajah Andri sebelum membusuk.

***

Malam hari. Seorang tetangga mencium bau tak sedap dari dalam rumah Wina. Sumber bau itu dari satu ruangan yang adalah kamar Wina. Di luar ruangan ada banyak tikus mengendus celah-celah jendela, seakan mencium bau yang sedap. Ia menelfon polisi karena merasa curiga.

Rendi menunggu polisi datang dengan gelisah. Tak lama polisi datang menggunakan mobil patroli. Rendi takut bau itu adalah bau mayat Wina yang berhasil bunuh diri. Rendi tidak hilang ingatan. Dia hanya berpura-pura.

Pintu rumah, mereka dobrak karena tak ada yang membuka saat diketuk. Lalu mereka memeriksa satu demi satu ruangan. Sampai pada satu ruangan yang terkunci.

Tok-tok-tok.

“Ada seseorang di dalam?” Seorang komandan polisi dengan identitas Eko berteriak. Tak ada jawaban. Lalu ia menatap bawahannya.

“Masuk Pak Eko,” sambil mengangguk, bawahannya menjawab tatapan Pak Eko dengan yakin.

Bruk! Pintu terbuka. Orang-orang melihat sesosok mayat yang mulai membusuk di atas Kasur. Itu adalah mayat Andri. Kelaminnya telah hilang dan diganti oleh mentimun yang dilem. Dan Wina ada di sampingnya. Matanya ditutupi mentimun. Tangannya dilipat di atas perutnya. Seperti orang mati. Para polisi segera mengamankan Wina. Sedang Rendi sibuk menangkap tikus satu demi satu.

***

Di suatu tempat, Ibu dan Ayah Wina sedang memandu turis bertamasya. Mereka berharap Wina tidak berupaya bunuh diri lagi seperti beberapa minggu yang lalu.

“Ayo ibu-ibu bapak-bapak sekarang kita saatnya menuju hotel mandi dan beristirahat agar nanti kita bisa kembali beraktifitas dengan keadaan sehat dan segar bukankah kita harus menjaga kesehatan kita saat bertamasya agar tidak sakit dan liburan ini tidak sia sia,”

Seseorang berbisik dari kejauhan kepada kawannya pemandu wisata yang buruk.


Ilustrasi: Syavira Salsabila