A password will be e-mailed to you.

“Mangku tak sudi mati di tanah tumpah darahnya, Bali.”

Di atas itu adalah kalimat pembuka dari cerpen “Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh” karya Martin Aleida—dalam kumpulan cerpennya “Mati Baik-baik Kawan”. Kita menjadi heran pada kalimat serupa barusan. Bagaimana mungkin seseorang rela—bahkan bertekad—untuk lepas dari tanah kelahirannya sendiri, tercerabut dari akar budayanya sendiri? Lalu kita menduga-duga pada kisah di balik Mangku yang tak kepingin mati di “rumahnya” itu.

Namun barangkali kita akan mendapatkan petunjuk awal dari latar belakang tekad Mangku tersebut jika membaca paragraf itu dengan lengkap.

“…Mangku tak sudi mati di tanah tumpah darahnya, Bali. Tidak! Hidup terlalu menyesakkan, hingga dia bersumpah lebih baik mati di daratan yang jauh. Tak pernah dia bayangkan jasadnya akan diantar ke kayangan bersama api ngaben yang meliuk. Suatu kematian terhormat yang buatnya adalah angan-angan yang jauh. Tetapi, dia yakin, mati sekedar diantar selantun doa tentulah mungkin. Dan itu sudah jauh lebih mulia daripada kematian ayahnya…”

Dua kata, kematian dan ayah, adalah frasa kunci yang dapat mengantarkan kita pada dugaan-dugaan selanjutnya. Tampak ada rasa traumatik yang mendalam dari ungkapan itu. Dan jika kita membaca bagian selanjutnya, kita jadi tahu motif dari kematian ayahnya tersebut: bahwa, ayah Mangku dibunuh terkait sengketa tanah dengan tuantanah.

Lagi-lagi kita mendapatkan frasa kunci: tuantanah. Frasa tersebut tidak terlalu sulit untuk kita terjemahkan, sehingga dengan mudah pula kita menebak apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya itu. (Kalau anda akrab dengan beberapa literatur yang terkait dengan ’65, tentu anda tahu kalau Bali ialah salahsatu basis PKI masa itu. Maka, di sana terjadi pembantaian besar-besaran terhadap komunis.)

Apalagi paragraf selanjutnya, dengan eksplisit, menyebutkan cara-cara bagaimana ayah Mangku dibunuh.

“…Begitulah, suatu pagi, ayah Mangku diseret ke tepi lubang, tengkuknya dihantam linggis, dan bersama jasad petani senasib, dia ditimbuni, tanpa dosa, konon pula airmata…”

Maka jelaslah sudah kenapa Mangku begitu ingin pergi dari kampung halamannya. Siapa orang yang mampu bertahan lama-lama dengan kenangan buruk? Apalagi diceritakan bahwa Mangku menjadi pembantu di rumah si tuantanah yang dulu membunuh ayahnya.

Namun, biarpun demikian, Mangku tak punya niat secuil pun untuk balas dendam pada majikannya itu. Alih-alih menghimpun kekuatan dan strategi buat menunaikan dendam kesumat, ia malah sibuk memikirkan sebuah tanah yang jauh di Sumatra. Dan akhirnya di suatu malam, Mangku beserta anjing kintamani dan seekor kera—hewan peliharaan sahabatnya—membulatkan tekad untuk memulai ekspedisi ngawur itu: menjumpai Lampung.

Perjalanan menuju Lampung itu ditempuhnya dengan berbagai kisah pilu. Dimulai dari hadangan tibum —ketika ia dan dua hewan sahabatnya menggelar topeng monyet, sampai pada kedua sahabatnya itu satu-persatu meninggalkan Mangku. Didahului si anjing kintamani yang disergap pemburu anjing liar. Lalu si kera yang diterjang anjing-anjing buduk sampai sekarat dan “meninggal dunia”. Dan yang terakhir itu, membuat Mangku semakin fokus pada apa yang sedang ia lakukan: mencari tempat yang layak untuk merayakan kematian.

Kera yang sudah mati itu tetap ia bawa menuju Sumatra. Sesampainya di sana, Mangku menempatkan si kera di tempat yang layak. Ia menguburkannya dengan khidmat. Mari kita simak paragraf penutup di bawah ini.

“…Mangku tegak di atas lutut menghadap lubang. Berdoa beberapa saat, lantas dia menimbuni lubang kuburan itu dengan tanah. Juga airmata. “Persis sebagaimana kau dikuburkan ini, begitulah kematian yang kuinginkan. Mati baik-baik, Kawan. Diiringi doa…”

Martin Aleida tak membebani pembaca dengan muatan-muatan tragedi kemanusian yang berlebih. Cukup saja ia memantiknya di awal ketika ia menggulirkan sedikit kejadian matinya ayah Mangku. Selebihnya, kita dibawa pada kehidupan seorang anak korban beserta dua hewan sahabatnya. Lebih gilanya, rasa kemanusian yang sembunyi di palung hati kita ia seret sedemikian rupa untuk sekadar meratapi seekor kera. Paradoks jenius dari sang penulis, mengingat bahwa kematian seekor kera justeru menjadi pintu menuju kesadaran rasa kemanusian kita, sebagai manusia.

***

Dalam buku ini (Mati Baik-baik, Kawan), terkumpul sembilan cerita pendek. Cerpen-cerpen itu memuat kisah-kisah yang sangat perlu untuk kita renungi, dari mulai cerita sebuah keluarga, harapan akan sebuah cinta kasih yang berakhir dengan harakiri, kejurnalisan, bahkan sampai tentang keagamaan yang bentukan tokohnya sangat jenaka. Semua cerita itu dibungkus dengan tema ’65.

Buku dengan tebal 144 halaman, beserta tentang apa-apa yang terkandung di dalamnya ini, sangat dianjurkan untuk dibaca dan diresapi. Jangan lupa barang satu atau dua gelas kopi dan keripik genjer bisa menemani anda membaca buku ini.