A password will be e-mailed to you.

Beberapa waktu lalu, tim redaksi KF (Kelakar Fibrasi) berhasil menduduki kota Tasik tanpa mendapat perlawanan yang berarti. Tujuan kami ke sana adalah untuk menemui Kang Bode. Begitu bertemu belio, kami langsung saja menculiknya. Kami membawa Kang Bode—dengan mata tertutup—ke sebuah pojokan gedung kesenian. Belio malah haha-hihi saja saat kami bawa. Mohon maaf, tokoh kita yang satu ini memang agak cengengesan. Tapi, biar bagaimanapun, belio ini adalah seniman. Dan bagi kami, seniman itu lebih suci ketimbang ulama—apalagi ulama yang suka mengkapling sorga.

Belio ini adalah seorang teaterawan yang gemar menulis karya sastra, baik fiksi maupun non-fiksi, sekaligus dosen di sebuah universitas di Tasik. Tulisannya sudah banyak dimuat di media massa. Karyanya dalam pertunjukan teater pun telah berkeliling ke beberapa daerah. Kehidupan yang serba berkesenian itulah yang membuat kami ingin jumpa. Dan puji Tuhan, kami telah berhasil melakukannya.

Berikut telah kami catat, seadanya, kelakaran kami bersama belio yang terekam lewat gawai kami yang canggih. Selamat membaca!

KF : Nama?

B : Bode Riswandi

KF : Umur?

B : Hi hi hi

KF : Pekerjaan?

B : Apa ya?

KF : Payah nih. Ya sudah. Kita langsung saja. Sekarang serius, ya, kang.

B : Iya.

KF : Gimana sih proses kreatif Kang Bode dalam berkarya?

B : Eh, beneran ini serius?

KF : Astaghfirullah!

B : Iya atuh, maap. Bisa diulang pertanyaannya?

KF : Hufft.. Gimana sih proses kreatif Kang Bode dalam berkarya?

B : Ekhem.. ekhem.. Jadi gini. Ada banyak ya, tergantung dari situasi teks yang akan ditulis. Tapi kebanyakan dalam berbagai macam jenis karya sastra itu berbeda-beda pendekatan, mau itu puisi atau cerpen. Dari puisi saya termasuk orang yang paling tidak produktif. Karena, puisi itu sangat sulit, beda dengan cerpen dan naskah drama. Ada observasi yang luar biasa yang harus dilakoni dalam puisi. Meskipun pada ujungnya: apakah akan jadi puisi atau tidak itu bukan lagi urusan. Ketika saya menulis puisi saya melakukan perjalanan-perjalanan itu. Satu, misalkan menemui tempat yang akan saya tulis. Dua, menemui orang yang akan saya tulis. Tiga, menemui waktu yang memungkinkan menjadi latar suasana. Itu harus hadir. Baik secara tubuh saya masuk ke dalam peristiwa itu atau membaca literer. Nah membaca literer itu kan sebagai media agar bisa kita sampai pada suasananya.

Kalau cerpen, beda. Cerpen itu kekuatan imajinasinya kadang-kadang bisa berperan lebih tinggi, disamping kenyataan faktual di lapangan. Tapi cerpen-cerpen yang saya tulis sama halnya dengan puisi, lebih besar perannya itu berhubungan dengan sikap sosial masyarakat. Satu, misalkan berbicara tentang pelacur, tidak mungkin seorang penulis kalau menulis tentang seorang pelacur tidak mengenal bagaimana dunia kepelacuran, itu harus dimasuki dunia mereka, agar menulis cerpen itu tidak sebatas menulis laporan reportase berita, tapi mengangkat apa yang ingin disampaikan. Kecenderungan menulis cerpen yang saya lakukan lebih kepada kenyataan-kenyataan sosial itu, di samping cinta, dsb. Adapun mengenai pilihan bagaimana cerita itu dibangun—nanti kalau pernah baca cerpen yang saya tulis—semuanya 99% pasti solution ending, tidak happy ending kadang-kadang sad ending. Orang yang membaca mengatakan, “kok ini cerpennya belum selesai.” Lah biarin saja orang merespon begitu, karena memang saya tidak ingin memberikan satu keputusan purna kepada pembaca. Biar pembaca yang memutuskan.

Gaya-gaya itu juga saya lakoni ketika menulis naskah drama. Saya selalu ingin memunculkan tokoh-tokoh alienasi, tokoh-tokoh yang memecah konsentrasi antara penonton dengan aktor. Karena saya beranggapan penonton sudah menyaksikan satu pertunjukan. Kasian kalau terlalu serius nonton, toh ini hanya sebuah pertunjukan. Lalu saya munculkan tokoh alienasi itu, pemecah antara “eh sadar! Ini sedang pertunjukan loh,” tapi dengan pola-pola dialog yang berbeda. Itu naskah.
Jadi, antara puisi, cerpen, naskah drama, itu punya pendekatan yang berbeda-beda. Seperti itulah bagian dari keasyikan proses kreatif.

KF : Luar biasa. Boleh di-share referensi bacaan kang Bode apa aja?

B : Banyak ya. Kalau penyair-penyair di Indonesia saya senang puisi-puisi W.S Rendra, itu suka sekali, puisi-puisi realitas sosial Rendra, puisi-puisi pamplet Rendra. Puisi pamplet yang isinya protes memang seperti hal yang mudah asal kamu mengatakan kalimat yang kasar, ternyata tidak. Itu sangat sulit sekali. Nah saya belajar banyak dari Rendra, dari Asrul Sani, Chairil Anwar, Acep Zamzam Noor. Puisi-puisi mereka itu sangat dahsyat.

Kemudian pada akhirnya kita harus menemukan jalan lain. Jalan sendiri. Ini agar puisi kita tidak “loh ini acepian, oh ini chairilian, oh ini…. dsb.” Proses itu harus dijalani dan tidak mungkin dalam 1 atau 2 tahun. Prosesnya tidak bisa se-instan itu. Saya menulis sejak tahun 1996. Ketika SMP kelas 2 mulai nulis. SMA mulai menerbitkan buku. Karena proses kreatif itu tidak lantas tumbuh di ruang kamar sendirian, tapi kita harus sosialisasi, (maka) dengan kang Acep, dengan siapapun saya selalu menimba ilmu.

Kalau penyair luar banyak sekali, ada Octavio Paz. Kalau cerpennya ada Anton Chekov. Dalam novel ada Albert Camus, Jean Paul Sartre. Itu bacaan-bacaan yang lezat buat pemikiran kita. Nah kalau soal pemikiran, soal kekuatan nalar saya lebih suka dengan gaya-gaya Edward W Said yang peran intelektual atau yang deorientalism. Temen-temen musti baca itu.

KF : Waktu itu berangkat dari kondisi lingkungan dan budaya seperti apa sampai akhirnya kang Bode lahir menjadi seorang seniman? 

B : Jadi, cita-cita awal saya itu jadi pemain sepakbola yang terkenal di dunia. Bahkan saya pernah masuk SSB (Sekolah Sepak Bola, red). Tidak ada latar belakang ikut kesenian atau sastra. Namun dipikir-pikir ketika SD, sudah ada kelainan—menurut saya itu kelainan, yaitu tentang kegemaran menulis buku diary. Di buku diary itu kan ada motto, ada pesan, dll. Nah dari sana menulis motto-motto yang aneh-aneh. Kalo yang lain: “gantungkan cita-citamu setinggi langit” kan udah biasa. Waktu itu saya sudah menulis “Aku adalah Aku” bari te ngarti naon hartina eta teh, gagah-gagahan kan kitu [tertawa]. Dari sana saya mulai senang nulis.

SMP kelas 2 ikut lomba nulis puisi dan juara tidak ada kebanggaan sedikitpun, bahkan ketika SMP menulis puisi itu bukan nama saya yang di tulis tapi Angga Persada, Angga Persada teh KM kelas [tertawa]  eh juara dan di umumkan ketika upacara siga film si cinta tea kitu ada apa dengan cinta [tertawa], tapi tidak ada kepuasan, asa biasa we.

Ketika mau masuk SMA, diputuskan harus memilih sekolah. Saya jatuh cinta ke SMA Muhammadiyah. Alasannya sederhana: di SMA Muhammadiyah waktu itu ada mading yang besar sekali di dindingnya. Dinding itu panjang dilapisi oleh mading dengan figura yang bagus. Di sana ada puisi, cerpen. Hanya karena itu kemudian saya tertarik ke SMA Muhammadiyah. Ternyata banyak tulisan-tulisan penyair. Ada Ade Imas Permasih. Saya sudah baca bukunya: “Di Nafas Gunung.” Di sana mulai jatuh cinta. Dan saya nulis di sana, berteater disana, berproses kreatif di sana, sampai bertemu dengan Anas Janama, bertemu dengan Acep Zamzam Noor. Ketika kelas 2 SMA saya mulai menerbitkan buku judulnya Biografi Pengusung Waktu, edan teu ketika SMA mikir Biografi  Pengusung Waktu [tertawa]. Dari sana mulai tertarik nulis, sampai detik ini.
Sampai kuliah, saya mendaftar ke UPI jurusan Bahasa Indonesia dan ke UNPAD dan alhamdulillah di tolak, gagal [tertawa]. Akhirnya pilihannya ke UNSIL, FKIP  yang tidak saya senangi awalnya. Karena, tidak ada pikiran untuk menjadi guru. Yang saya pikirkan Bahasa Indonesia, eh ternyata di UNSIL hanya ada jurusan bahasa di FKIP, yasudahlah. Akhirnya menjadi bagian hari ini menjadi pengajar di UNSIL.

Nah ketika kuliah pun dulu saya nulis dikoran bahkan sejak kuliah saya lebih banyak mendapatkan honor dari tulisan yang dimuat. Enak sekali. Di temen-temen sanggar ada trend saling memanasi, nah itu yang penting, Anying tah nu aing geus dimuat karya, mana nu maneh, lah siga kitu[tertawa] tiap minggu tuh ada waktu berbarengan. “Ayok kirim karya bareng-bareng,” seminggu kemudian beli koran oh tidak ada (karya tidak dimuat, red) oh nu si itu euy asup (dimuat) itu saling memanasi. Itu penting didalam sebuah komunitas, memberikan suatu support yang membangun yang kalo tidak menulis teu ganteng, mun teu nulis teu gaya, dsb [tertawa].

Nah dari tulisan-tulisan itu, yang secara tidak sadar, kemudian orang-orang memberikan tittle kepada saya sebagai seniman. Padahal itu tidak perlu dipikirkan lah, yang kayak gitu mah. Biarin. Ternyata masyarakat memahaminya itu. Ya sudahlah, kita terima apa adanya dan saya lebih senang disebut seniman daripada dosen.

KF : Kemudian apa sih yang membuat kang Bode bertahan di sastra dan teater?   
B : Sastra itu membuat kita berpikir panjang. Orang mengira sastra adalah pekerjaan yang cukup menghabiskan waktu, yang sia-sia, terus hal-hal yang melamun, Loh ga apa-apa masyarakat memikirkan itu. Enggak apa-apa karena dia belum merasakan bagaimana sastra itu mampu membuat nyaman seorang penulis. Bahkan dengan satsra, salah satunya, menjadi alternatif seseorang untuk terhindar dari masa lalunya yang gelap. Dan itu dialami oleh saya. Sastra adalah jalan pilihan yang sedikitnya melepaskan saya dari masa-masa itu.
KF : Kalau di teater apa sama juga?
B : Sama. Jadi teater itu dikatakan ibunya kesenian. Kalau teater itu ibarat rumah. Di dalam rumah itu ada banyak kamar: ada kamar musik, kamar sastra, kamar rupa, kamar rias, dsb. Nah di teater saya banyak menimba ilmu, banyak sekali. Kalau bergabung dengan temen-temen penyair itu sifatnya individualis. Kalau berteater kan tidak bisa. jadi minimal orang yang pernah bergabung di teater itu, ketika dia menulis cerita pendek, dia akan bisa memainkan konflik. Tapi juga dia akan terasah imajinasinya untuk menulis puisi.
KF : Terus kalau melihat perkembangan kegiatan berkesenian di tasik sekarang menurut kang Bode tasik saat ini gimana sih, maksudnya perkembangannya pesat atau gimana?
B : Saya harus berkata jujur, Tasik hari ini memang pesat. Ketika masa-masa saya itu ada masa kevakuman. Generasi angkatan yang nulis itu hanya itu-itu juga. Bahkan Tasikmalaya miskin penulis perempuan waktu itu, ketika periode saya.
KF : Tahun berapa itu kang?
B : Sekitar tahun 1999 sampai 2005an lah. Itu vakumnya lumayan panjang. Kemudian muncul satu tapi itu tidak bertahan. Hilang lagi. Hari ini sudah beda. Sastra di Tasikmalaya itu hampir sudah menjadi bagian dari nafasnya, baik dia yang memang melakoni sastra atau yang hanya sekedar suka terhadap sastra.
Fakta yang paling nyata adalah di kampus, misalnya di UNSIL. Betapa banyaknya temen-temen yang tadinya tidak suka sastra menjadi seneng menulis sastra. Minimal dia menjadi apresiator saja dulu. Berikutnya ada ketertarikan. Itu yang diciptakan. Dengan cara itu Tasikmalaya bisa menjaga estafetnya sampai muncul generasi-generasi berikutnya.
KF : Kalau faktor geografis ada pengaruhnya gak sih kang ke kang Bode dalam berkesenian?
B : Tasikmalaya adalah kota yang sangat kondusif untuk berkesenian menurut saya. Terlepas dari perangai masing-masing seniman, ya tapi kota ini sangat kondusif. Karena saya sendiri ketika hidup di Tasik merasa betah. Dan di Tasik-lah saya mengenalkan sastra. Temen-temen di Bandung juga, penyair terutama, selalu menjadikan Tasik itu barometer, kiblat untuk belajar sastra. Entah ada apa. Bahkan hanya sedikit orang yang mampu, yang siap bertahan di kota kecil Tasikmalaya dalam proses kreatif menulis. Beda kalau di Bandung. Akses informasi cepat. Akses komunikasi pesat. Orang bisa dengan cepat untuk bisa dikenal. Tapi orang yang memilih diam di kampung halaman seperti Tasikmalaya itu adalah orang-orang yang memang penuh mental yang kuat untuk sampai karyanya bisa dibaca oleh yang lain. Jadi tidak ada alasan menulis karya sastra itu untuk terkenal itu selesai nasibnya. Tapi minimal nulis itu ya menulis saja. Yang penting karyamu dibaca, terlepas karyamu akan dihina atau diapa, tidak masalah. Tapi itu dibaca. Terlepas namamu akan dikenang atau tidak. Tidak masalah. Yang penting kamu berkarya. Itu yang terus digemborkan, termasuk di Beranda 57. Juga demikian kepada temen-temen. Bacalah yang banyak. Karena, mustahil seorang penulis bukan seorang pembaca. Pasti seorang penulis adalah pembaca dan seorang pembaca belum tentu dia jadi seorang penulis. Maka dua elemen ini dikawinkan.
KF : Bagaimana cara menyikapi perbedaan dalam hal prinsip, gagasan, frekuensi di kehidupan sehari-hari terutama di kehidupan keluarga? 
B : Di keluarga saya tidak ada latar belakang yang jadi penulis. Di keluarga saya hanya ada dua orang yang terlibat dalam kesenian: saya dan adik saya yang bungsu, yang lagi kuliah Fotografi di ISI Yogya. Di keluarga tidak ada usaha untuk mengharuskan anaknya, misal kamu harus jadi ini atau apa. Itu dibebaskan. Barangkali kebebasan itulah yang menjadi satu iklim yang baik untuk menulis.
Di luar keluarga, temen-temen penulis ketika berbeda atau bersebrangan prinsip, saya sangat senang. Dan kita rawat perbedaan itu. Jadi asik. Ketika kita punya satu konsep dibantah. Itu yang saya senangi sampai detik ini. Dan saya selalu berpikir hal yang tidak lumrah. Misal, bahwa merah itu lambang berani. Itu kesepakatan umum dan selalu saja begitu. Nah saya ingin berbalik dulu dari pemikiran yang umum bahwa merah itu bukan lambang berani, tapi merah itu warna suci. Nah di sana terjadi adu dialektika. Walaupun saya tahu saya akan kalah. Gitu misalnya. Nah itu yang saya rawat [tertawa]. Saya tahu saya pasti akan kalah dengan argumen ini. Kalau orang yang saya ajak argumen ini kalah, berarti saya mampu membodohi dia [tertawa]. Itu rumusnya. Rumus saya, khususnya. Entah yang lain [tertawa].
KF : Wah, makasih banyak nih KangBode. Obrolan yang sungguh berfaedah, khusus bagi teman-teman kesenian. Semoga menginspirasi.
B : Iya. Amiin.
Nah begitulah obrolan kami bersama Kang Bode. Mudah-mudahan teman-teman dapat memetik hikmahnya. Bagi yang mau file audio-nya, boleh, minta aja langsung ke si Dzikri. Eh, gak tau ketang. Bisi hapenya udah dijual. Hihihi.